|
PENDAHULUAN
|
D
|
alam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung,
hampir
selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan
nonverbal secara bersama-sama. Keduanya, bahasa verbal dan nonverbal, memiliki
sifat holistik, bahwa masing-masing tidak dapat saling dipisahkan. Dalam banyak
tindakan komunikasi, bahasa nonverbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa
verbal. Namun lambang-lambang nonverbal juga dapat berfungsi kontradiktif,
pengulangan bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal. Ketika kita menyatakan
terima kasih (bahasa verbal), kita melengkapinya dengan tersenyum (bahasa
nonverbal); kita setuju terhadap pesan yang disampaikan orang lain dengan
anggukan kepala (bahasa nonverbal). Dua peristiwa komunikasi tersebut merupakan
contoh bahwa bahasa verbal dan nonverbal bekerja secara bersama-sama dalam
menciptakan makna suatu perilaku komunikasi. Modul ini akan membahas komunikasi
verbal dan nonverbal dalam tataran teoretis. Namun, guna mempermudah memahaminya,
kedua lambang komunikasi tersebut dipisahkan pembahasannya. Bahasan dalam modul
ini akan terdiri dari empat kegiatan belajar. Pertama, bahasan akan diawali
dengan bagaimana memahami komunikasi verbal dan nonverbal dilihat dari
perbedaan di antara keduanya. Sedangkan kegiatan belajar kedua akan
mendeskripsikan tentang komunikasi nonverbal. Hal-hal yang akan dibicarakan
adalah bagaimana. memahami komunikasi nonverbal, dan sejarah atau perkembangan
dari studi komunikasi nonverbal. Kegiatan belajar tiga akan membahas beberapa
pendekatan yang mendasari teori-teori dalam komunikasi nonverbal. Kegiatan
belajar keempat akan mengungkapkan tindak komunikasi verbal yang uraiannya akan
mencakup pengertian bahasa, sifat bahasa, dan pemahaman teoretik tentang komunikasi
verbal.
Masing-masing kegiatan belajar akan membahas dengan lebih
rinci beberapa aspek penting yang berkaitan dengan kegiatan belajar tersebut.
Karenanya, mempelajari materi dari modul ini dengan cermat merupakan langkah
terbaik untuk memahami tindak komunikasi yang menggunakan lambang-lambang
verbal dan nonverbal.
Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan memiliki
kemampuan
untuk memahami peristiwa-peristiwa komunikasi yang dalam
pelaksanaannya menggunakan lambang-lambang verbal dan nonverbal.
Setelah mempelajari masing-masing kegiatan belajar dengan
baik, Anda diharapkan mampu:
1. menguraikan
dengan lebih rinci karakteristik komunikasi verbal dan
nonverbal;
2. menjelaskan ciri,
fungsi, dan kategori komunikasi nonverbal;
3. menguraikan latar
belakang sejarah dari komunikasi nonverbal;
4. mengenal dan
menjelaskan beberapa pendekatan teoritis dalam
komunikasi nonverbal;
5. menjelaskan
pengertian bahasa;
6. menguraikan sifat
bahasa;
7. mengenal dan
menjelaskan beberapa pendekatan teoritis dalam
komunikasi verbal.
KEGIATAN BELAJAR 1
Pemahaman
mengenai Komunikasi Verbal
dan
Nonverbal
|
S
|
etidaknya ada tiga ciri utama yang menandai wujud atau
bentuk
komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Pertama,
lambang-
lambang nonverbal digunakan paling awal sejak kita lahir
di dunia ini,
sedangkan setelah tumbuh pengetahuan dan kedewasaan kita,
barulah bahasa
verbal kita pelajari. Kedua, komunikasi verbal dinilai
kurang universal
dibanding dengan komunikasi nonverbal, sebab bila kita
pergi ke luar negeri
misalnya dan kits tidak mengerti bahasa yang digunakan
oleh masyarakat di negara tersebut, kita bisa menggunakan isyarat-isyarat
nonverbal dengan orang asing yang kita ajak berkomunikasi. Dan ciri yang ketiga
adalah, bahwa komunikasi verbal merupakan aktivitas yang lebih intelektual
dibanding dengan bahasa nonverbal yang lebih merupakan aktivitas emosional.
Artinya, bahwa dengan bahasa verbal, sesungguhnya kita mengkomunikasikan
gagasan dan konsep-konsep yang abstrak, sementara melalui bahasa nonverbal,
kita mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian, perasaan
dan emosi yang kita miliki.
1. Definisi
Sebelum terlalu jauh kita memahami komunikasi verbal dan
nonverbal,
ada baiknya kita mengawalinya dengan mendeskripsikan
definisi atau
batasan mengenai komunikasi nonverbal. Mengapa hanya
komunikasi
nonverbal saja yang didefinisikan? Don Stacks dalam
bukunya Introduction
to Communication Theory menjelaskan bahwa perhatian untuk
mempelajari
aspek-aspek dalam komunikasi nonverbal masih sangat
kecil, sehingga dari
banyak referensi tentang komunikasi antarmanusia, kita
lebih banyak
menemukan batasan mengenai komunikasi verbal.
Dicontohkannya Frank
EX Dance dan Carl E. Larson menawarkan lebih dari seratus
definisi tentang
komunikasi verbal, namun mereka hanya menawarkan satu
definisi tentang
komunikasi nonverbal. Dengan landasan inilah, kita
mencoba untuk lebih
banyak memberi penekanan pada definisi komunikasi
nonverbal.
Secara sederhana, komunikasi nonverbal dapat
didefinisikan sebagai
berikut: Non berarti tidak, verbal bermakna kata-kata
(words), sehingga
komunikasi nonverbal dimaknai sebagai komunikasi tanpa
kata-kata.
Menurut Adler dan Rodman dalam bukunya Understanding
Human Communication, batasan yang sederhana tersebut merupakan langkah awal
untuk membedakan apa yang disebut dengan vocal communication yaitu
tindak komunikasi yang menggunakan mulut dan verbal
communication
yaitu tindak komunikasi yang menggunakan kata-kata.
Dengan demikian, definisi kerja dari komunikasi nonverbal adalah pesan lisan
dan bukan lisan
yang dinyatakan melalui alat lain di luar alat kebahasaan
(oral and nonoral
messages expressed by other than linguistic means).
Untuk memahami dengan lebih jelas, kita dapat melihat
tabel mengenai
tipe-tipe komunikasi berikut ini.
TABEL
TIPE-TIPE KOMUNIKASI
KOMUNIKASI
VOKAL NONVOKAL
KOMUNIKASI VERBAL Bahasa Lisan Bahasa Tertulis
(spoken words) (written words)
KOMUNIKASI NONVERBAL Nada
suara Isyarat
(gesture),
(tone of voice), gerakan
(movement),
Desah (sighs) penampilan
jeritan (screams), (appearance),
kualitas vokal ekspresi wajah
(vocal quality) (facial expression)
Sumber : Ronald B. Adler, George Rodman, Understanding
Human
Communica tion, Second Edition, hal.96
Tabel tipe-tipe komunikasi di atas dapat dibaca sebagai
berikut:
komunikasi verbal yang termasuk dalam
komunikasi vokal adalah bahasa
lisan, sedang yang tergolong dalam komunikasi nonvokal
adalah bahasa
tertulis. Sementara, komunikasi nonverbal yang termasuk
dalam komunikasi
Vokal adalah nada suara, desah, jeritan dan kualitas
vokal; dan yang termasuk dalam klasifikasi komunikasi nonvokal adalah isyarat,
gerakan (tubuh), penampilan (fisik), ekspresi wajah dan sebagainya. Atau kita
dapat membaca tabel di atas secara terbalik, diawali dengan komunikasi vokal
dan nonvokal terlebih dahulu. Batasan lain mengenai komunikasi nonverbal
dikemukakan oleh beberapa ahli lainnya, yaitu.
a. Frank EX Dance
dan Carl E. Larson:
Komunikasi nonverbal adalah sebuah stimuli yang tidak
bergantung pada isi simbolik untuk memaknainya (a stimulus not dependent on
symbolic content meaning).
b. Edward Sapir:
Komunikasi nonverbal adalah sebuah kode yang luas yang
ditulis tidak di mana pun juga, diketahui oleh tidak seorang pun dan dimengerti
oleh semua (an elaborate code that is written nowhere, known to none, and
understood by all).
c. Malandro dan
Barker yang dikutip dari Ilya Sunarwinadi: Komunikasi
Antar Budaya
memberikan batasan-batasannya sebagai berikut.
1) Komunikasi
nonverbal adalah komunikasi tanpa kata-kata.
2) Komunikasi nonverbal terjadi bila individu
berkomunikasi tanpa menggunakan suara.
3) Komunikasi nonverbal adalah setiap hal yang dilakukan
oleh
seseorang yang diberi makna oleh orang
lain.
4) Komunikasi nonverbal adalah studi mengenai ekspresi
wajah,
sentuhan, waktu, gerak isyarat, bau,
perilaku mata dan lain-lain.
2. Perbedaan
antara Komunikasi Verbal dan Nonverbal
Secara sekilas telah diuraikan pada bagian awal tulisan
ini, bahwa antara
komunikasi verbal dan nonverbal merupakan satu kesatuan
yang tidak dapat
dipisahkan, dalam arti. kedua bahasa tersebut bekerja
bersama-sama untuk
menciptakan suatu makna. Namun, keduanya juga memiliki
perbedaan-
perbedaan. Dalam pemikiran Don Stacks dan kawan-kawan,
ada tiga
perbedaan utama di antara keduanya yaitu kesengajaan
pesan (the
intentionality of the message), tingkat simbolisme dalam
tindakan atau pesan
(the degree of symbolism in the act or message), dan pemrosesan
mekanisme
(processing mechanism). Kita mencoba untuk menguraikannya
satu per satu.
a. Kesengajaan
(intentinolity)
Satu perbedaan utama antara komunikasi verbal dan
nonverbal adalah persepsi mengenai niat (intent). Pada umumnya niat ini menjadi
lebih penting ketika kita membicarakan lambang atau kode verbal. Michael
Burgoon dan Michael Ruffner menegaskan bahwa sebuah pesan verbal adalah
komunikasi kalau pesan tersebut
1) dikirimkan
oleh sumber dengan sengaja dan
2) diterima oleh penerima secara sengaja pula.
Komunikasi nonverbal tidak banyak dibatasi oleh niat.
atau intent
tersebut. Persepsi sederhana mengenai niat ini oleh
seorang penerima
sudah cukup dipertimbangkan menjadi komunikasi nonverbal.
Sebab,
komunikasi nonverbal cenderung kurang dilakukan dengan
sengaja dan
kurang halus apabila dibandingkan dengan komunikasi
verbal. Selain itu,
komunikasi nonverbal mengarah pada norma-norma yang
berlaku,
sementara niat atau intent tidak terdefinisikan dengan
jelas. Misalnya,
norma-norma untuk penampilan fisik. Kita semua
berpakaian, namun
berapa Bering kita dengan sengaja berpakaian untuk sebuah
situasi
tertentu? Berapa kali seorang teman memberi komentar
terhadap
penampilan kita? Persepsi receiver mengenai niat ini
sudah cukup untuk
memenuhi persyaratan guna mendefinisikan komunikasi
nonverbal.
b. Perbedaan
perbedaan simbolik (symbolic differences)
Kadang-kadang niat atau intent ini dapat dipahami karena
beberapa dampak simbolik dari komunikasi kita. Misalnya, memakai pakaian dengan
warna atau model tertentu, mungkin akan dipahami sebagai suatu `pesan' oleh
orang lain (misalnya berpakaian dengan warna hitam akan diberi makna sebagai
ungkapan ikut berduka cita).
Komunikasi verbal dengan sifat-sifatnya merupakan sebuah
bentuk komunikasi yang diantarai (mediated form of communication). Dalam arti
kita mencoba mengambil kesimpulan terhadap makna apa yang diterapkan pada suatu
pilihan kata. Kata-kata yang kita gunakan adalah abstraksi yang telah
disepakati maknanya, sehingga komunikasi verbal bersifat intensional dan harus
'dibagi' (shared) di antara orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi.
Sebaliknya, komunikasi nonverbal lebih alami, isi beroperasi sebagai norma dan
perilaku yang didasarkan pada norma. Mehrabian menjelaskan bahwa komunikasi
verbal dipandang lebih eksplisit dibanding bahasa nonverbal yang bersifat
implisit. Artinya, isyarat-isyarat verbal dapat didefinisikan melalui sebuah
kamus yang eksplisit dan lewat aturan-aturan sintaksis (kalimat), namun hanya
ada penjelasan yang samar-samar dan informal mengenai signifikansi beragam
perilaku nonverbal.
Mengakhiri bahasan mengenai perbedaan simbolik ini, kita
mencoba
untuk melihat ketidaksamaan antara tanda (sign) dengan
lambang
(simbol). Tanda adalah sebuah representasi alami dari
suatu kejadian
atau tindakan. la adalah apa yang kita lihat atau
rasakan. Sedangkan
lambang merupakan sesuatu yang ditempatkan pada sesuatu
yang lain.
Lambang merepresentasikan tanda melalui abstraksi.
Contoh, tanda dari
sebuah kursi adalah kursi itu sendiri, sedangkan lambang
adalah bagaimana kita menjelaskan kursi tersebut melalui abstraksi. Dengan
perkataan lain, apa yang secara fisik menarik bagi kita
adalah tanda
(sign) dan bagaimana menciptakan perbedaan yang
berubah-ubah untuk
menunjukkan derajat ketertarikan tersebut adalah lambang
(simbol).
Komunikasi verbal lebih spesifik dari bahasa nonverbal,
dalam arti is dapat dipakai untuk membedakan hal-hal yang sama dalam sebuah
cara yang berubah-ubah, sedangkan bahasa nonverbal lebih mengarah pada
reaksi-reaksi alami seperti perasaan atau emosi.
c. Mekanisme pemrosesan (processing mechanism)
Perbedaan ketiga antara komunikasi verbal dan nonverbal
berkaitan
dengan bagaimana kita memproses informasi. Semua
informasi termasuk
komunikasi diproses melalui otak, kemudian otak kita
menafsirkan
informasi ini lewat pikiran yang berfungsi mengendalikan
perilaku-
perilaku fisiologis (refleks) dan sosiologis (perilaku
yang dipelajari dan
perilaku sosial).
Satu perbedaan utama dalam pemrosesan adalah dalam tipe
informasi
pada setiap belahan otak. Secara tipikal, belahan otak
sebelah kiri adalah
tipe informasi yang lebih tidak berkesinambungan dan
berubah-ubah,
sementara belahan otak sebelah kanan, tipe informasinya
Iebih
berkesinambungan dan alami (pada uraian di bawah,
Malandro dan
Barker juga menjelaskan mengenai hal ini).
Berdasarkan pada perbedaan tersebut, pesan-pesan verbal
dan nonverbal
berbeda dalam konteks struktur pesannya. Komunikasi
nonverbal kurang
terstruktur. Aturan-aturan yang ada ketika kita
berkomunikasi secara
nonverbal adalah lebih sederhana dibanding komunikasi
verbal yang mempersyaratkan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis. Komunikasi
nonverbal secara tipikal diekspresikan pada saat tindak
komunikasi
berlangsung. Tidak seperti komunikasi verbal, bahasa
nonverbal tidak
bisa mengekspresikan peristiwa komunikasi di masa lalu
atau masa
mendatang. Selain itu, komunikasi nonverbal
mempersyaratkan sebuah
pemahaman mengenai konteks di mana interaksi tersebut
terjadi,
sebaliknya komunikasi verbal justru menciptakan konteks
tersebut.
Perbedaan lain tentang komunikasi verbal dan nonverbal
dapat dilihat dari dimensi-dimensi yang dimiliki keduanya. Gagasan ini
dicetuskan oleh Malandro dan Barker seperti yang dikutip dalam buku Komunikasi
Antar Budaya tulisan Dra. Ilya Sunarwinadi, M.A.
a. Struktur
>< Nonstruktur
Komunikasi verbal sangat terstruktur dan mempunyai hukum
atau aturan-aturan tata bahasa. Dalam komunikasi nonverbal hampir tidak ada
atau tidak ada sama sekali struktur formal yang mengarahkan komunikasi.
Kebanyakan komunikasi nonverbal terjadi secara tidak disadari, tanpa
urut-urutan kejadian, yang dapat diramalkan sebelumnya. Tanpa pola yang jelas,
perilaku nonverbal yang sama dapat memberi arti yang berbeda pada saat yang
berlainan.
b. Linguistik
>< Nonlinguistik
Linguistik adalah ilmu yang mempelajari anal usul,
struktur, sejarah,
variasi regional dan ciri-ciri fonetik dari bahasa.
Dengan kata lain,
linguistik mempelajari macam-macam segi bahasa verbal,
yaitu suatu
sistem dari lambang-lambang yang sudah diatur pemberian
maknanya. Sebaliknya. pada komunikasi nonverbal, karena tidak adanya struktur
khusus, maka sulit untuk memberi makna pada lambang. Belum ada sistem bahasa
nonverbal yang didokumentasikan, walaupun ada usaha untuk memberikan arti
khusus pada ekspresi-ekspresi wajah tertentu. Beberapa teori mungkin akan
memberikan pengecualian pada bahasa kaum tuna-rungu yang berlaku universal,
sekalipun ada juga lambang-lambangnya yang bersifat unik.
c. Sinambung
(continuous) >< Tidak Sinambung (discontinuous)
Komunikasi nonverbal dianggap bersifat sinambung,
sementara komunikasi verbal didasarkan pada unit-unit yang terputus-putus.
Komunikasi nonverbal baru berhenti bila orang yang terlibat di dalamnya meninggalkan
suatu tempat. Tetapi selama tubuh, wajah dan kehadiran kita masih dapat
dipersepsikan oleh orang lain atau diri kita sendiri, berarti komunikasi
nonverbal dapat terjadi. Tidak sama halnya dengan kata-kata dan simbol dalam
komunikasi verbal yang mempunyai titik awal dan akhir yang pasti.
d. Dipelajari
><Didapat secara Ilmiah
Jarang sekali individu yang diajarkan cara untuk
berkomunikasi secara
nonverbal. Biasanya is hanya mengamati dan mengalaminya.
Bahkan
ada yang berpendapat bahwa manusia lahir dengan
naluri-naluri dasar
nonverbal. Sebaliknya komunikasi verbal adalah sesuatu
yang harus
dipelajari.
e. Pemrosesan dalam
Bagian Otak sebelah Kiri >< Pemrosesan dalam
Bagian Otak sebelah Kanan
Pendekatan neurofisiologik melihat perbedaan dalam pemrosesan
stimuli
verbal dan nonverbal pada diri manusia. Pendekatan ini
menjelaskan
bagaimana kebanyakan stimuli nonverbal diproses dalam
bagian otak
sebelah kanan, sedangkan stimuli verbal yang memerlukan
analisis dan
penalaran, diproses dalam bagian otak sebelah kiri.
Dengan adanya
perbedaan ini, maka kemampuan untuk mengirim dan menerima
pesan
berbeda pula.
Masih dalam buku Komunikasi Antar Budaya karya Ilya
SunarwinadiSamovar, Porter dan Jain melihat perbedaan antara komunikasi verbal
dan nonverbal dalam hal sebagai berikut.
- Banyak perilaku nonverbal yang diatur oleh dorongan-dorongan biologik. Sebaliknya komunikasi verbal diatur oleh aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang dibuat oleh manusia, seperti sintaks dan tata bahasa.
Misalnya, kita bisa secara sadar memutuskan untuk
berbicara, tetapi
dalam berbicara secara tidak sadar pipi menjadi memerah
dan mata
berkedip terus-menerus.
b. Banyak
komunikasi nonverbal serta lambang-lambangnya yang bermakna universal. Sedangkan komunikasi verbal lebih
banyak yang bersifat spesifik bagi kebudayaan tertentu.
c. Dalam komunikasi
nonverbal bisa dilakukan beberapa tindakan sekaligus dalam suatu waktu
tertentu, sementara komunikasi verbal terikat pada urutan waktu.
d. Komunikasi
nonverbal dipelajari sejak usia sangat dini. Sedangkan
penggunaan lambang berupa kata sebagai alat komunikasi
membutuhkan
masa sosialisasi sampai pada tingkat tertentu.
e. Komunikasi
nonverbal lebih dapat memberi dampak emosional
dibanding komunikasi verbal.
3. Fungsi Komunikasi
Verbal dan Nonverbal
Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal memiliki
perbedaan-
perbedaan, namun keduanya dibutuhkan untuk berlangsungnya
tindak
komunikasi yang efektif. Fungsi dari lambang-lambang
verbal maupun
nonverbal adalah untuk memproduksi makna yang
komunikatif. Secara
historis, kode nonverbal sebagai suatu multi saluran akan
mengubah pesan
verbal melalui enam fungsi: pengulangan (repetition),
berlawanan (contradiction), pengganti (substitution), pengaturan (regulation),
penekanan
(accentuation) dan pelengkap (complementation).
Dalam tahun 1965,
Paul Ekman menjelaskan bahwa pesan nonverbal
akan mengulang atau meneguhkan pesan verbal. Misalnya
dalam suatu
lelang, kita mengacungkan satu jari untuk menunjukkan
jumlah tawaran yang
kita minta, sementara secara verbal kila mengatakan
"satu'. Pesan-pesan
nonverbal juga berfungsi untuk mengkontradiksikan atau
menegaskan pesan
verbal seperti dalam sarkasme atau sindirian-sindiran
tajam. Kadang-kadang,
komunikasi nonverbal mengganti pesan verbal. Misalnya,
kita tidak perlu
secara verbal menyatakan kata "menang", namun
cukup hanya mengacungkan dua jari kita membentuk huruf `V' (victory) yang
bermakna kemenangan. Fungsi lain dari komunikasi nonverbal adalah mengatur
pesan verbal. Pesan-pesan nonverbal berfungsi untuk mengendalikan sebuah
interaksi dalam suatu cara yang sesuai dan halus, seperti misalnya anggukan
kepala selama percakapan berlangsung. Selain itu, komunikasi nonverbal juga
memberi penekanan kepada pesan verbal, seperti mengacungkan kepalan tangan. Dan
akhirnya fungsi komunikasi nonverbal adalah pelengkap pesan verbal dengan
mengubah pesan verbal, seperti tersenyum untuk menunjukkan rasa bahagia kita.
Pemikiran yang sama juga
diungkapkan oleh Samovar (Ilya
Sunarwinadi, Komunikasi Antar Budaya), bahwa dalam suatu peristiwa
komunikasi, perilaku nonverbal digunakan secara
bersama-sama dengan
Bahasa verbal:
a. Perilaku
nonverbal memberi aksen atau penekanan pada pesan verbal.
Misalnya menyatakan terima kasih dengan tersenyum.
b. Perilaku
nonverbal sebagai pengulangan dari bahasa verbal. Misalnya
menyatakan arah
tempat dengan menjelaskan "Perpustakaan Universitas
Terbuka terletak
di belakang gedung ini", kemudian mengulang pesan
yang sama dengan
menunjuk arahnya.
c. Tindak komunikasi
nonverbal melengkapi pernyataan verbal, misalnya
mengatakan maaf
pada teman karena tidak dapat meminjamkan uang;
dan agar lebih
percaya, pernyataan itu ditambah lagi dengan ekspresi
muka
sungguh-sungguh atau memperlihatkan saku atau dompet yang
kosong.
d. Perilaku nonverbal sebagai pengganti dari komunikasi
verbal. misalnya
menyatakan rasa
haru tidak dengan kata-kata, melainkan dengan mata
yang
berlinang-linang.
Dalam perkembangannya sekarang ini, fungsi komunikasi
nonverbal
dipandang sebagai pesan-pesan yang holistik, lebih dari
pada sebagai sebuah
fungsi pemrosesan informasi yang sederhana. Fungsi-fungsi
holistik
mencakup identifikasi, pembentukan dan manajemen kesan,
muslihat, emosi
dan struktur percakapan. Karenanya, komunikasi nonverbal
terutama
berfungsi mengendalikan (controlling), dalam arti kita
berusaha supaya orang
lain dapat melakukan apa yang kita perintahkan. Hickson
dan Stacks
menegaskan bahwa fungsi-fungsi holistik tersebut dapat
diturunkan dalam 8
fungsi, yaitu pengendalian terhadap percakapan, kontrol
terhadap perilaku
orang lain, ketertarikan atau kesenangan, penolakan atau
ketidaksenangan,
peragaan informasi kognitif, peragaan informasi afektif,
penipuan diri (self-
deception) dan muslihat terhadap orang lain.
Komunikasi nonverbal digunakan untuk memastikan bahwa
makna yang sebenarnya dari pesan-pesan verbal dapat dimengerti atau bahkan
tidak dapat dipahami. Keduanya, komunikasi verbal dan nonverbal, kurang dapat
beroperasi secara terpisah, satu sama lain saling membutuhkan guna mencapai
komunikasi yang efektif.
KEGIATAN
BELAJAR 2
Komunikasi
Nonverbal
|
D
|
alam Kegiatan Belajar 2 berikut ini, kits akan
mempelajari komunikasi
nonverbal dengan lebih mendalam. Pembahasan akan mencakup
bagaimana kita memahami komunikasi nonverbal dan
deskripsi ringkas mengenai sejarah komunikasi nonverbal.
Bagaimana kita memahami komunikasi nonverbal, setidaknya
dapat kita
lihat dari dua nisi. Pertama, karakteristik komunikasi
nonverbal yang
meliputi eksistensinya, perannya dalam mentransmisikan
perasaan, sifat
menduanya, dan keterikatannya dengan suatu budaya
tertentu. Selain itu,
upaya untuk memahami komunikasi nonverbal dapat pula
dilihat dari
kategorinya yang mencakup postur, isyarat (gestural),
penggunaan wajah dan
mata, suara, sentuhan, cara berpakaian, dan sebagainya.
Pada bagian lain, kita akan mempelajani juga-sejarah singkat komunikasi
nonverbal dari masa Yunani dan Romawi sampai pendekatan yang sekarang
digunakan.
Karenanya, mempelajari dengan sungguh-sungguh materi yang
ada
dalam Kegiatan Belajar 2 ini merupakan langkah awal untuk
dapat memahami komunikasi manusia secara verbal dan nonverbal.
A. MEMAHAMI KOMUNIKASI NONVERBAL
1. Karakteristik
Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal sebagaimana yang telah diuraikan
dalam Kegiatan Belajar 1, terdiri dari pesan-pesan yang dinyatakan melalui
alat-alat nonlinguistik. Namun demikian, kurang tepat apabila kita mempunyai
pikiran
bahwa semua ekspresi yang tanpa kata-kata (wordless)
merupakan komunikasi nonverbal atau semua pernyataan yang terungkapkan secara
lisan merupakan komunikasi verbal (pelajari kembali tabel mengenai tipe-tipe
komunikasi yang ada pada Kegiatan Belajar 1).
Menurut Ronald Adler dan George Rodman, komunikasi
nonverbal memiliki empat karakteristik yaitu keberadaannya, kemampuannya
menyampaikan pesan tanpa bahasa verbal, sifat ambiguitasnya dan keterikatannya
dalam suatu kultur tertentu.
Eksistensi atau keberadaan komunikasi nonverbal akan
dapat diamati
ketika kita melakukan tindak komunikasi secara verbal,
maupun pada saat
bahasa verbal tidak digunakan. Atau dengan kata lain,
komunikasi nonverbal
akan selalu muncul dalam setiap tindakan komunikasi,
disadari maupun tidak
disadari. Keberadaan komunikasi nonverbal ini pada
gilirannya akan
membawa kepada cirinya yang lain, yaitu bahwa kita dapat
berkomunikasi
secara nonverbal, karena setiap orang mampu mengirim
pesan secara
nonverbal kepada orang lain, tanpa menggunakan
tanda-tanda verbal.
Karakteristik
lain dari komunikasi nonverbal adalah sifat ambiguitasnya,
dalam arti ada banyak kemungkinan penafsiran terhadap
setiap perilaku. Sifat
ambigu atau mendua ini sangat penting bagi penerima
(receiver) untuk
menguji setiap interpretasi sebelum sampai pada
kesimpulan tentang makna
dari suatu pesan nonverbal. Dan karakteristik terakhir
adalah bahwa
komunikasi nonverbal terikat dalam suatu kultur atau
budaya tertentu.
Maksudnya, perilaku-perilaku yang memiliki makna khusus
dalam satu
budaya, akan mengekspresikan pesan-pesan yang berbeda
dalam ikatan
kultur yang lain.
2. Kategori
Komunikasi Nonverbal
Kategori komunikasi nonverbal yang dimaksudkan dalam
bahasan ini
adalah beragam cara yang digunakan orang-orang untuk
berkomunikasi
secara nonverbal, yaitu vocalics atau paralanguage,
kinesics yang mencakup
gerakan tubuh, lengan, dan kaki, serta ekspresi wajah
(facial expression),
perilaku mata (eye behavior), lingkungan yang mencakup
objek benda dan
artifak, proxemics: yang merupakan ruang dan teritori
pribadi, haptics
(sentuhan), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian),
chronemics
(waktu), dan olfaction (bau).
Dalam tindak komunikasi sehari-hari, kita lebih banyak
mempunyai output dan input vokal dibanding dengan kata-kata yang kita ungkapkan
secara lisan. Output dan input vokal inilah yang kita sebut sebagai vocalics
atau paralanguage. Contoh nyata dari kategori komunikasi nonverbal ini adalah
desah (sighing), menjerit (screaming), merintih (groaning), menelan
(swallowing) menguap (yawning), di samping bentuk-bentuk seperti jeda,
intonasi, dan penekanan dalam pembicaraan lisan.
Kategori lain dari komunikasi nonverbal adalah kinesics.
Ketika kita
berkomunikasi dengan orang lain, ekspresi wajah kita akan
selalu berubah
tanpa melihat apakah kita sedang berbicara atau mendengarkan.
Paul Ekman
dan Wallace Friesen telah mengidentifikasikan enam emosi
dasar bahwa ekspresi wajah mencerminkan keheranan, ketakutan, kemarahan,
kebahagiaan, kesedihan, dan kebencian atau kejijikan.
Bentuk lain dari kinesics adalah gerakan tangan, kaki dan
kepala. Orang-
orang yang terlibat dalam tindak komunikasi sering
menggerakkan kepala
dan tangannya selama interaksi berlangsung. Beberapa dari
gerakan kepala
dan tangan tersebut dilakukan secara sadar dan beberapa
lainnya
dilaksanakan secara tidak sengaja, namun semuanya
memiliki makna.
Gerakan tangan cenderung digunakan paling banyak oleh
orang yang sedang
berbicara, sedangkan pendengar cenderung, memakai gerakan
kepala.
Gerakan kepala yang paling umum digunakan oleh
orang-orang yang sedang
mendengar adalah anggukan dan gelengan kepala. Gerakan
kepala yang lain
adalah dengan mengernyitkan atau mengerutkan dahi.
Gerakan ini bermakna
bahwa orang yang sedang mendengarkan memberikan umpan
balik
(feedback) kepada pembicara.
Gerakan tangan menyajikan banyak fungsi pesan bagi
pembicara selama
interaksi berlangsung, yaitu menegaskan atau menjelaskan
apa yang
dikatakan, memberi penekanan pada pembicaraan dan
mengilustrasikan apa
yang sedang dikatakan. Selain itu, ada jugs gerakan
tangan yang tidak
memiliki hubungan yang nyata terhadap apa yang sedang
dikatakan. Tujuan
dari gerakan tangan ini adalah untuk menunjukkan
intensitas pesan, misalnya
berjabat tangan dengan cepat untuk mengekspresikan
kegembiraan.
Aspek komunikatif yang utama dari perilaku mata adalah
siapa dan apa yang sedang kita lihat dan untuk berapa lama. Mata kita merupakan
saluran komunikasi nonverbal yang penting, tidak hanya selama interaksi tetapi
jugs sebelum dan sesudah interaksi berakhir. Dengan memelihara kontak mata dan tersenyum,
orang-orang yang terlibat mengindikasikan bahwa mereka tertarik dengan
persoalan yang sedang diperbincangkan.
Kategori selanjutnya dari komunikasi nonverbal adalah
proxemics, yaitu
suatu cara bagaimana orang-orang yang terlibat dalam
suatu tindak
komunikasi berusaha untuk merasakan dan menggunakan ruang
(space).
Antropolog Edward T. Hall mendefinisikan empat jarak yang
kita gunakan
dalam kehidupan sehari-hari, Ia menjelaskan bahwa kita
memilih satu jarak
khusus bergantung pada bagaimana kita merasakan terhadap
orang lain pada
suatu situasi tertentu, konteks percakapan dan
tujuan-tujuan pribadi kita.
Keempat jarak tersebut adalah intimate distance, personal
distance, social
distance dan public distance. Namun empat jarak yang
dikemukakan oleh Hal ini hanya menggambarkan perilaku orang-orang dari Amerika
Utara dan
sangat mungkin berbeda dengan orang-orang yang berasal
dari budaya lain.
Adapun klasifikasi Hall tersebut adalah sebagai berikut.
a. Intimate
Distance
Percakapan dalam jarak yang akrab ini berlangsung dengan
bisikan atau
suara yang sangat pelan. Dalam jarak ini, orang-orang
yang berkomunikasi secara emosional sangat dekat dan dalam situasi yang
sangat pribadi. Orang-orang yang terlibat dalam interaksi
dengan jarak
yang akrab ini merupakan suatu tanda bahwa di antara
mereka tumbuh
rasa saling percaya. Namun demikian, interaksi dalam
jarak yang akrab
ini juga terjadi dalam lingkungan yang kurang akrab,
seperti ketika kita
berobat ke dokter.
b. Personal distance
Dalam jarak personal ini, kontak komunikasi yang
berlangsung masih
tertutup, namun percakapan-percakapannya tidak lagi
bersifat pribadi
dibanding dengan interaksi dalam jarak akrab.
c. Social distance
Interaksi yang berlangsung dalam jarak sosial ini
biasanya terjadi dalam
situasi bisnis, misalnya interaksi antara salesman/girl
dengan para calon
pembeli/pelanggan. Dalam kontak komunikasi ini, suara
yang lebih keras
sangat dibutuhkan,
d. Public distance
Contoh nyata dari komunikasi yang menggunakanjarak publik
ini adalah perkuliahan dalam kelas dan pidato yang disampaikan pada suatu ruang
tertentu. Dalam jarak publik ini, komunikasi yang bersifat dua arah (twoway
traffic) sulit untuk dilaksanakan, sebab ada jarak yang cukup jauh antara
pembicara dengan para pendengarnya.
Faktor lingkungan sebagai salah satu karakteristik
penandaan nonverbal
dapat berupa lingkungan atau benda-benda yang digunakan
atau dimiliki
seseorang yang dapat merefleksikan makna tertentu yang
berkaitan dengan
orang tersebut. Misalnya, ketika kita memasuki ruang atau
rumah seseorang,
dengan segera kita dapat memperoleh kesan mengenai
kepribadian penghuninya. Demikian pula dengan kesan yang kita berikan pada
seseorang
dengan melihat mobil yang dikendarainya, perabot
rumahnya, asesorisnya,
dan sebagainya. Hal ini terjadi karena orang cenderung
memilih benda atau
lingkungan yang dapat merefleksikan citra diri dan
kepribadiannya.
Penampilan fisik acapkali mengekspresikan penandaan
nonverbal tertentu. Hal ini dapat kita rasakan ketika memberikan stereotipe
tertentu yang berkaitan dengan keadaan fisik seseorang. Misalnya orang yang
gemuk dianggap sebagai periang dan orang yang kurus sebagai orang yang serius.
Demikian pula dengan panjang atau potongan rambut tertentu. Beberapa karakter
fisik lainnya yang dianggap berperan dalam penandaan nonverbal mencakup berat
badan, tinggi badan, wama kulit, kontur wajah, dan berbagai jenis bekas luka
atau cacat fisik. Sementara itu atribut lain yang berhubungan erat dengan
penampilan fisik, dan sangat jelas berperan sebagai penanda makna tertentu
adalah cars berpakaian.
Biasanya ketika orang memilih dan memutuskan untuk
memakai pakaian
tertentu, maka dia secara sadar telah menggunakan tanda
nonverbal untuk
mengekspresikan makna melalui kesan tertentu dalam penampilannya.
Seperti dikemukakan oleh Ronald B. Adler dan George
Rodman dalam
bukunya Understanding Human Communication, bahwa salah
satu kategori
komunikasi nonverbal yang penting adalah clothing atau
cara berpakaian.
Pakaian yang dikenakan merupakan satu alat komunikasi.
Orang-orang
dengan sengaja mengirimkan pesan tentang diri mereka
melalui apa yang
mereka kenakan dan kits berusaha menginterpretasikannya
berdasarkan pada
pakaian yang dikenakan. Dengan demikian, pakaian tidak
hanya melindungi
kita dari panas dan dingin, namun melalui pakaian dapat
menjadi indikator
dari status sosial ekonomi seseorang, penanda dari
peran-peran tertentu
(ABRI, Pegawai Negeri Sipil) dan sebagainya.
Haptics atau sentuhan atau kontak tubuh dikatakan oleh
Emmert dan
Donaghy sebagai cara terbaik untuk mengkomunikasikan
sikap pribadi, baik
yang positif maupun yang negatif. Frekuensi dan durasi
sentuhan dapat
menjadi indikator tentang persahabatan dan rasa suka di
antara orang yang
melakukannya. Sentuhan dapat pula menjadi indikator yang
paling ekstrim
dari rasa tidak suka atau kemarahan, seperti menampar,
menyepak, memukul,
dan sebagainya. Cara-cara atau bentuk sentuhan dapat pula
menunjukkan
posisi orang dalam hubungan dengan orang lainnya,
khususnya dalam
pengertian dominan dan submisif (seperti mengelus kepala,
mencium tangan,
dan sebagainya).
Waktu atau chronemics juga dapat menjadi penanda
nonverbal yang
digunakan ketika seseorang berkomunikasi. Bentuk nyata
yang dapat kita
rasakan adalah mengenai orang yang tepat/tidak tepat
waktu, orang yang mengulur-ulur waktu untuk menyampaikan pesan bahwa dia tidak
menyukai apa yang sedang dilakukannya, dan sebagainya.
3. Deskripsi
Historis Komunikasi Nonverbal
Kajian pertama mengenai komunikasi nonverbal
ditemukan pada zaman
Aristoteles sekitar 400 sampai 600 tahun Sebelum Masehi.
Namun studi
ilmiahnya yang berkaitan dengan retorika, barn dilakukan
pada zaman Yunani dan Romawi Kuno.
Karya Cicero, Pronuntiatio atau cara berpidato, mungkin
yang pertama kali memperlakukan komunikasi nonverbal secara sistematis.
Bagaimanapun juga, karyanya telah dibatasi untuk menggunakan suara dan
gerakan-gerakan ragawi dalam konteks public speaking. Dari hasil karya Cicero
ini, kemudian orang lain mengkaji pengaruh bahasa nonverbal terhadap komunikasi
dalam hampir keseluruhan situasi public speaking.
Dalam tahun 1775,
Joshua Steele memusatkan kajiannya mengenai
komunikasi nonverbal pada suara sebagai satu instrumen
atau pada suatu
konsep yang disebut Prosody. Konsep dari Steele ini
menjelaskan bahwa
bahasa dalam drama atau puisi dapat "dibaca"
hampir seperti notasi musik.
Kemudian pada tahun 1806, Gilbert Austin
mengkonsentrasikan kajiannya
pada gerakan-gerakan badan yang dihubungkan dengan
bahasa. Pendekatan
ini menghasilkan sebuah sistem yang disebut dengan
elocutionary system di
mana isyarat-isyarat yang" pantas" dipelajari
dan digunakan dalam
pertunjukan drama. Elocutionary system adalah seni
deklamasi atau keahlian
membaca/mengucapkan kalimat dengan logat dan lagu yang
baik di muka
umum.
Kajian yang lebih kompleks tentang komunikasi nonverbal
dikembangkan oleh Francois Delsarte. Delsarte menggabungkan suara dan
gerakan-gerakan badan sekaligus. Dalam kajiannya tersebut, Delsarte berusaha
meyakinkan bahwa pesan-pesan atau komunikasi secara nonverbal merupakan
"agents of the heart".
KEGIATAN BELAJAR 3
Beberapa Pendekatan dalam Teori
Komunikasi
Nonverbal
|
P
|
ermulaan dari studi komunikasi nonverbal modern
seringkali diidentifikasikan dengan karya Darwin: The Expression of Emotions in
Man and Animals. Perhatian Darwin terhadap komunikasi
nonverbal terutama berkaitan dengan fungsinya sebagai sebuah teori untuk
menjelaskan mengenai penampilan (theory of performance), sebuah cara berpidato
yang mengindikasikan suasana hati, sikap atau perasaan.
Dari karya Darwin ini, perhatian terhadap komunikasi
nonverbal telah memunculkan kajian antardisiplin. Dari hasil karyanya pula,
telah dikembangkan tiga perspektif teoritis, yaitu the ethological approach
(studi mengenai kesamaan-kesamaan antara perilaku manusia dengan perilaku
binatang), the anthropological approach dan the functional approach. Dari
ketiga pendekatan ini muncul sejumlah teori-teori yang menjelaskan tentang
fenomena nonverbal yang dapat diterapkan dalam konteks komunikasi.
1. Ethological
Approach (Pendekatan Etologi)
Menurut Darwin, emosi manusia seperti halnya emosi dari
binatang
dapat dilihat dari wajahnya. Darwin mengasumsikan bahwa
komunikasi
nonverbal dari makhluk hidup (species) yang berbeda
sebenarnya adalah
sama. Orang-orang yang mendukung pandangan Darwin seperti
Morris,
Ekman dan Friesen percaya bahwa ekspresi nonverbal pada
budaya mana pun
esensinya sama, karena komunikasi nonverbal tidak
dipelajari, is adalah
bagian alami dari keberadaan manusia. Dua contoh etologis
yang sering
disebut-sebut adalah senyuman dan ekspresi wajah yang
dapat ditemukan
pada kultur mana pun juga.
a. Teori struktur
kumulatif
Dalam teorinya ini, Ekman dan Friesen memfokuskan
analisisnya pada
makna yang diasosiasikan dengan kinesic. Teori mereka
disebut cumulative structure atau
meaning centered karena lebih banyak membahas mengenai makna yang berkaitan
dengan gerak tubuh dan
ekspresi wajah ketimbang struktur perilaku. Mereka
beranggapan bahwa
seluruh komunikasi nonverbal merefleksikan dua hal:
apakah suatu
tindakan yang disengaja dan apakah tindakan harus
menyertai pesan
verbal. Hal ini dapat dicontohkan pada kasus ketika
seseorang
menceritakan sesuatu sambil gerak tangannya yang
menunjukkan tinggi
dan ekspresi wajah yang gembira. Gerak tangan yang
menunjukkan
tinggi ini tidak akan memiliki arti tanpa disertai
ungkapan verbal, jadi
tindakan ini disengaja dan memiliki makna tertentu. Lain
halnya dengan
ekspresi wajah yang gembira, yang dapat berdiri sendiri
dan dapat
diartikan tanpa bantuan pesan verbal. Meskipun demikian,
kedua
tindakan tersebut telah menambahkan kepada makna yang
berkaitan
dengan interaksi antara kedua orang tersebut, dan ini
oleh Ekman dan
Friesen disebut sebagai `expressive behavior'.
Selanjutnya, Ekman dan Friesen mengidentifikasi lima
kategori dari expressive behavior yaitu emblem, ilustrator, regulator, adaptor,
dan penggambaran perasaan, di mana masing-masing memberikan kedalaman pada
makna yang berkaitan dengan situasi komunikasi. Emblem adalah gerakan tubuh
atau ekspresi wajah yang memiliki nilai sama dengan pesan verbal, yang
disengaja, dan dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pesan verbal. Contohnya
adalah setuju, pujian, atau ucapan selamat jalan yang dapat digantikan dengan
anggukan kepala, acungan jempol, atau lambaian tangan.
Ilustrator adalah gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang
mendukung dan melengkapi pesan verbal. Misalnya raut muka yang serius ketika
memberikan penjelasan untuk menunjukkan bahwa yang dibicarakan adalah persoalan
serius, atau gerakan tangan yang menggambarkan sesuatu yang sedang dibicarakan.
Sementara itu, regulator adalah tindakan yang disengaja yang biasanya digunakan
dalam percakapan, misalnya mengenai giliran berbicara. Bentuk-bentuk lain dari
regulator dalam percakapan antara lain adalah senyuman, anggukan kepala, tangan
yang menunjuk, mengangkat alis, orientasi tubuh, dan sebagainya, yang
kesemuanya berperan dalam mengatur anus informasi pada suatu situasi
percakapan.
Kategori keempat adalah adaptor yaitu tindakan yang
disengaja, yang digunakan untuk menyesuaikan tubuh dan menciptakan kenyamanan
bagi tubuh atau emosi. Terdapat dua subkategori dari adaptor, yaitu: `self'
(seperti menggaruk kepala, menyentuh dagu atau hidung) dan `object' (menggigit
pinsil, memainkan kunci).. Perilaku ini biasanya dipandang sebagai refleksi
kecemasan atau perilaku negatif. Kategori kelima adalah penggambaran emosi atau
`affect display' yang dapat disengaja maupun tidak, dapat menyertai pesan
verbal maupun berdiri sendiri. Menurut Ekman dan Friesen, terdapat tujuh bentuk
affect display yang pengungkapannya cukup universal, yaitu: marah, menghina,
malu, takut, gembira, sedih, dan terkejut. Mereka mengemukakan pula bahwa
beberapa affect display yang berbeda dapat diungkapkan secara bersamaan, dan
bentuk seperti ini disebut "affect bland".
- Teori tindakan (Action theory)
Morris juga mengemukakan suatu pandangan mengenai kinesic
yang
lebih didasarkan pada tindakan. Dia mengasumsikan bahwa
perilaku
tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbagi ke
dalam suatu
rangkaian panjang peristiwa yang terpisah-pisah.
Menurutnya, terdapat
lima kategori yang berbeda dalam tindakan yaitu:
pembawaan (inborn),
ditemukan (discovered), diserap (absorb), dilatih (trained),
dan campuran
(mixed). Inborn merupakan insting yang dimiliki sejak
lahir, seperti
perilaku menyusu. Discovered diperoleh secara sadar dan
terbatas pada
struktur genetik tubuh, seperti menyilangkan kaki.
Absorbed. Diperoleh
secara tidak sadar melalui interaksi dengan orang lain
(biasanya teman)
seperti meniru ekspresi atau gerakan seseorang. Trained
diperoleh dengan
belajar, seperti berjalan, mengetik dan sebagainya.
Sedangkan mixed
actions diperoleh melalui berbagai macam cara yang
mencakup keempat
hal di atas.
2. Anthropological
Approach (Pendekatan Anthropologis)
Pendekatan
antropologis menganggap komunikasi nonverbal terpengaruh
oleh kultur atau masyarakat, dan pendekatan ini diwakili oleh dua teori yang
dikemukakan oleh Birdwhistell dan Edward T. Hall.
a. Analogi
Linguistik
Dalam teorinya ini Birdwhistell mengasumsikan bahwa
komunikasi
nonverbal memiliki struktur yang sama dengan komunikasi
verbal.
Bahasa distrukturkan atas bunyi dan kombinasi bunyi yang
membentuk
apa yang kita sebut kata. Kombinasi kata dalam suatu
konteks akan
membentuk kalimat, dan berikutnya kombinasi kalimat akan
membentuk
paragraf. Birdwhistell mengemukakan bahwa hal yang sama
terjadi
dalam konteks nonverbal, yaitu terdapat `bunyi nonverbal'
yang disebut
allokines (satuan
gerakan tubuh terkecil yang sering kali tidak dapat
dideteksi). Kombinasi allokines akan membentuk trines
dalam suatu
bentuk yang serupa dengan bahasa verbal, yang dalam teori
ini disebut
sebagai analogi linguistik.
Teori ini mendasarkan penjelasannya pada enam asumsi
sebagai berikut.
1)
Terdapat tingkat Baling ketergantungan yang tinggi antara
kelima
indera manusia, yang bersama-sama dengan ungkapan verbal
akan
membentuk
`infracommunicational system'.
2) Komunikasi
kinesic berbeda antarkultur dan bahkan antara
mikrokultur.
3) Tidak ada
simbol bahasa tubuh yang universal.
4) Prinsip-prinsip
pengulangan (redundancy) tidak terdapat
pada
perilaku kinesic.
5) Perilaku
kinesic lebih primitif dan kurang terkendali dibanding
komunikasi
verbal.
6) Kita harus
membandingkan tanda-tanda nonverbal secara berulang-ulang sebelum kita dapat
memberikan interpretasi yang akurat.
Keenam prinsip yang mendasari analogi linguistik ini pada
dasarnya
menyatakan bahwa kelima indera kita berinteraksi atau
bekerja bersama-
sama untuk menciptakan persepsi, dan dalam setiap
situasi, satu atau
lebih indera kita akan mendominasi indera lainnya.
Menurut Birdwhistell,
perilaku kinesic bersifat unik bagi tiap kultur atau
subkultur, sehingga
perbedaan individu dalam komunikasi nonverbal merupakan
fungsi kultur
atau subkultur di mana individu tersebut berada. Oleh
karenanya, kultur
harus diperhitungkan dalam studi tentang komunikasi
nonverbal.
Prinsip ketiga menegaskan kembali bahwa perilaku
nonverbal lebih
banyak diperoleh sebagai hasil belajar daripada faktor
genetik yang
diturunkan antar generasi. Dia juga menganggap bahwa
komunikasi
nonverbal lebih bersifat melengkapi komunikasi verbal
dari pada
mengulang atau menggantikannya, yaitu keduanya bekerja bersama-
sama dalam menghasilkan makna. Dan akhirnya, karena
komunikasi
nonverbal tidak selalu dilakukan secara sadar dan lebih
bersifat primitif,
kita cenderung untuk melupakan apa yang kita 'katakan'
secara nonverbal.
Selanjutnya Birdwhistell menjelaskan bahwa fenomena
parakinesic
(yaitu kombinasi gerakan yang dihubungkan dengan
komunikasi verbal)
dapat dipelajari melalui struktur gerakan. Struktur ini
mencakup tiga
faktor yaitu: intensitas dari tegangan yang tampak dari
otot, durasi dari
gerakan yang tampak, dan luasnya gerakan. Dari
faktor-faktor ini kita
dapat mengenal isi berbagai klasifikasi gerakan/perilaku
yang meliputi
allokine, kine, kineme (pengelompokan kine yang artinya
menyerupai
suatu `kata'
dalam bahasa), dan kinemorpheme (yang
menyerupai
kalimat dalam konteks bahasa). Jadi kita dapat
menganalisis komunikasi nonverbal seperti jika kita melakukannya pada
komunikasi verbal, namun kita mengganti unit analisisnya dari `bunyi dan kata'
menjadi `gerak dan gerakan'.
b. Analogi kultural
Analogi kultural yang dikemukakan oleh Edward T. Hall
membahas
komunikasi nonverbal dari aspek proxemics dan chronemics.
Teori Hall
mengenai proxemico (sebagian telah dibahas pada Kegiatan
Belajar 2)mengacu kepada penggunaan "ruang" sebagai ekspresi spesifik
dari kultur. Teori Hall mencakup batasan-batasan mengenai ruang yang disebutnya
sebagai lingkungan (artifactual), teritorial, dan personal. Lebih lanjut dia
mengemukakan adanya tiga jenis ruang, masing-masing dengan norma dan ekspektasi
yang berbeda, yaitu: informal space, ruang terdekat yang mengitari kita
(personal space); fixed feature space' yaitu benda di lingkungan kita yang
relatif sulit bergerak atau dipindahkan seperti rumah, tembok, dan sebagainya;
dan `semifixed feature space', yaitu barang-barang yang dapat dipindahkan yang
berada dalam fixed-feature space.
Salah satu aspek terpenting dari teori Hall adalah
kajiannya mengenai preferensi dalam personal space. Menurutnya, preferensi
ruang seseorang ditentukan oleh delapan faktor yang saling terkait yang
ditemukan dalam tiap kultur. Pertama adalah, jenis kelamin dan posisi dari
orang yang sating berinteraksi, yaitu lelaki atau perempuan, dan apakah mereka
duduk, berdiri, dan sebagainya. Kedua, sudut pandangan atau "angle"
yang terbentuk oleh bahu dan dada/punggung dari orang yang berkomunikasi
(faktor sociofugal-sociopetal axis). Ketiga, posisi badan ketika berkomunikasi
yang berada dalam jarak sentuhan (faktor kinesthetic). Keempat, sentuhan dan
jenis sentuhan (faktor zero- proxemic). Kelima,
frekuensi dan cara-cara kontak mata (faktor visual code). Keenam, persepsi
tentang panas tubuh yang dapat dirasakan ketika berinteraksi (faktor thermal
code). Ketujuh, odor atau bau yang tercium ketika berinteraksi (faktor olfactory
code). Delapan, kerasnya atau volume suara dalam interaksi (faktor voice
loudness).
Dalam analisisnya mengenai chronemics atau waktu sebagai
salah
satu tanda nonverbal, Hall mengemukakan bahwa norma-norma
waktu
ditemukan dalam berbagai kultur dalam bentuknya yang
berbeda-beda.
Waktu memiliki apa yang disebut dengan `formal time,
'informal time ,
dan 'technical time' Formal time mencakup susunan dan
siklus, memiliki nilai, memiliki durasi dan kedalaman. Informal time biasanya
didefinisikan secara lebih longgar dalam kultur, dan bekerja pada tataran
psikologis atau sosiologis, serta diungkapkan melalui individu atau kelompok.
Penggunaannya dapat berupa ungkapan `sebentar lagi', `nanti', atau `sekarang'.
Sedangkan technical time menggambarkan penggunaan waktu secara lebih spesifik,
seperti `kilometer perjam', `tahun matahari' atau `meter per detik'.
3. Functional
Approach (Pendekatan Fungsional)
Pendekatan fungsional memandang komunikasi nonverbal
sebagai
bertujuan dan dibatasi oleh suatu kerangka waktu
tertentu. Ini berbeda dari
pendekatan ethologis di mana komunikasi nonverbal
dipandang sebagai suatu
proses evolusi yang berkesinambungan dari spesies yang
lebih rendah sampai kepada manusia. Ini juga berbeda dari pendekatan
antropologis di mana fungsi tertentu dapat terjadi dalam setiap kultur. Dalam
teori fungsional, norma-norma kultural dianggap sebagai sesuatu yang telah ada
(given) dan diperhitungkan dalam kerangka waktu sebagai `variasi kultural'.
Persoalan yang muncul dengan pendekatan fungsional adalah bahwa teori-teorinya
mengemukakan sejumlah fungsi yang berbeda, beberapa di antaranya menunjukkan
kesamaan sementara sejumlah lainnya berbeda.
a. Teori metaforis dari Mehrabian
Teori Mehrabian menempatkan perilaku nonverbal ke dalam
pengelompokan fungsi. Dia memandang komunikasi nonverbal berada di antara tiga
kontinum, yaitu: dominan-submisif, menyenangkan tidak menyenangkan, dan
mengairahkan tidak menggairahkan. Perilaku nonverbal dapat ditempatkan pada
setiap kontinum dan dianalisis melalui tiga metafora yang berkaitan dengan
kekuasaan dan status,
kesukaan, dan tingkat responsif. Metafora
kekuasaan-status men-
cerminkan tingkatan di mana perilaku nonverbal
mengkomunikasikan
dominasi atau submisi. Metafora kesukaan didasarkan pada
kontinum
menyenangkan-tidak menyenangkan, sedangkan metafora
responsif
didasarkan pada kontinum menggairahkan-tidak
menggairahkan. Hampir setiap pesan nonverbal dapat dianalisis oleh setiap
fungsinya dan diinterpretasikan dari satu atau kombinasi fungsi-fungsi
tersebut.
Misalnya senyuman dapat mengindikasikan adanya
kesenangan,
kegairahan dan kesukaan. Teori Mehrabian dapat diterapkan
pada semua komunikasi nonverbal, meskipun paling sesuai untuk diterapkan pada
penandaan kinesic, para language, sentuhan danjarak/ruang.
b. Teori Equilibrium
Michael Argyle dan Janet Dean mengemukakan suatu teori
komunikasi
nonverbal yang didasarkan pada suatu metafora
keintiman-ekuilibrium.
Mereka mengemukakan bahwa seluruh interaksi dibatasi
dalam konflik
antara kekuatan-kekuatan penarik dan penolak. Kekuatan
yang menarik dan mendorong antara satu orang dengan orang lainnya cenderung
untuk menyeimbangkan suatu hubungan. Kekuatan tersebut dijumpai dalam perilaku
nonverbal yang berkaitan dengan pendekatan (jarak yang lebih dekat, kontak mata
yang lebih banyak, sentuhan dan gerakan tubuh yang lebih sering) dan
penghindaran (jarak yang lebih jauh, kurangnya kontak mata, dan jarangnya
sentuhan dan gerakan tubuh). Lebih lanjut Argyle dan Dean mengemukakan bahwa
ketika kita berinteraksi, kits mengalami atau menggunakan seluruh saluran
komunikasi yang ada, dan suatu perubahan dalam satu saluran nonverbal akan
menghasilkan perubahan pada saluran lainnya sebagai kompensasi.
c. Teorifungsional dari Patterson
Patterson mengemukakan bahwa komunikasi nonverbal memiliki
lima
fungsi, yaitu: memberikan informasi, mengekspresikan
keintiman,
mengatur interaksi, melaksanakan kontrol sosial, dan
membantu
pencapaian tujuan. Memberikan informasi antara lain
membiarkan
seseorang mengerti tentang perasaan kita. Mengekspresikan
keintiman
dapat dilakukan melalui sentuhan. Pengaturan interaksi
antara lain
mengatur giliran berbicara dalam percakapan. Melaksanakan
kontrol
sosial digunakan ketika kits mengekspresikan pandangan.
Membantu
pencapaian tujuan biasanya bersifat impersonal, misalnya
sentuhan yang terjadi ketika seorang penata rambut sedang menata rambut kita.
d. Teori Fungsional Komunikatif
Teori yang dikemukakan oleh Burgoon ini memfokuskan
kepada
`kegunaan, motif, atau hasil dari komunikasi'. Teori ini
menjelaskan
peran yang dimiliki oleh komunikasi nonverbal terhadap
hasil komunikasi, seperti persuasi dan desepsi (pengelabuan). Dengan
demikian teori ini telah mengalihkan perhatian dari suatu
pemahaman
mengenai bagaimana cara kerja komunikasi nonverbal,
kepada apa yang dilakukan komunikasi nonverbal. Burgoon mengemukakan terdapat
sedikitnya sembilan fungsi, dari komunikasi emosional sampai
pemrosesan informasi dan pemahaman. Teori ini memandang
suatu
inisiatif untuk berinteraksi sebagai bersifat multi
fungsional dan sebagai suatu bagian penting dari proses komunikasi. Jadi
fokusnya bukan sekedar pada apa yang ditampilkan oleh perilaku nonverbal,
tetapi juga pada hubungan antara perilaku tersebut dengan tujuan-tujuan yang
ada di baliknya.
KEGIATAN
BELAJAR 4
Teori-teori
Komunikasi Verbal
|
P
|
ertanyaan mengenai bagaimana kita memperoleh dan
menggunakan bahasa (komunikasi verbal) untuk berkomunikasi telah menjadi
bahasan teoritis selama berabad-abad. Kemampuan kita untuk melakukan
simbolisasi dan berbicara telah memisahkan kita dari
spesies lain yang lebih rendah. Pembahasan pada Kegiatan Belajar 4 ini berusaha
untuk memahami bagaimana dan dengan efek apa bahasa digunakan. Meskipun
demikian, sama seperti komunikasi nonverbal, terdapat berbagai perspektif mengenai
bahasa dan pengaruhnya. Kita akan mulai dengan suatu pandangan bahwa bahasa
secara genetis telah dimiliki oleh manusia (nature approach). Dengan demikian,
kita hanya perlu mempelajari kombinasi tertentu dari penggunaan kata, yang
merefleksikan cara-cara kita menyampaikan dan menerima pesan.
Pada bagian berikutnya kita akan masuk pada suatu
pendekatan yang mempelajari dampak dari penggunaan bahasa dalam menciptakan
realitas, yaitu bagaimana kita `memberi label' atau 'atribut' pada dunia kita
dan bagaimana 'label' tersebut menghasilkan `realitas' (narture approach). Kita
kemudian akan beralih kepada pandangan fungsional yang mencoba menjawab
pertanyaan: mengapa kita bereaksi terhadap bahasa, seolah-olah kata adalah
benda yang direpresentasikannya? Pada bagian akhir kita akan mendiskusikan
suatu pendekatan yang berorientasi pada pesan dalam bahasa, dan membahas proses
berpikir yang berkaitan dengan bahasa yang mendahului aktivitas transmisi
pesan.
1. Nature
Approach (Pendekatan Natural)
Seorang ahli yang menaruh perhatian pada bagaimana orang
memperoleh bahasa adalah Noam Chomsky yang memandang pembelajaran bahasa
sebagai suatu fungsi biologis, sama seperti cara Darwin memandang
komunikasi nonverbal. Teori Chomsky yang disebut
`struktur dalam' (deep
structure) mengasumsikan bahwa suatu tata bahasa atau
struktur bawaan
(innategrammar) yang ada pads diri manusia sejak dia
lahir merupakan
landasan bagi semua bahasa. Teori ini mencakup suatu
pendekatan umum
yang universal. Dengan mendasarkan pada sejumlah besar
penelitiannya,
Chomsky mengidentifikasi adanya tiga struktur dalam semua
bahasa.
Pertama, adanya hubungan antara subjek-predikat. Apa pun
subjeknya,
predikat akan selalu menunjukkan tindakan apa yang
dilakukan oleh subjek.
Demikian pula sebaliknya, apa pun predikatnya, subjek
akan selalu menunjukkan apa atau siapa yang melakukan tindakan tersebut.
Misalnya
'orang makan', `gajah makan', 'monyet makan', kesemuanya
menunjukkan
bahwa subjek sedang melakukan tindakan tertentu, yaitu
makan. Sementara
dari visi predikat `orang lari', `orang bermain', `orang
makan', menunjukkan
bahwa `orang' yang melakukan tindakan, apa pun bentuknya.
Kedua,
hubungan antara kata kerja (verb) dengan objek yang
mengekspresikan
hubungan logis sebab dan akibat. Hubungan ini menunjukkan
kepada siapa
atau untuk apa suatu tindakan dilakukan. Misalnya `orang
memakai topi',
`orang memakai jas', `orang
memakai kaos', kesemuanya menunjukkan
bahwa objek (apa
pun jenisnya) dipakai oleh orang tersebut. Ketiga,
modifikasi,' yang menunjukkan adanya pertautan kelas (intersection of classes). Misalnya orang
memakai `topi hitam', 'orang memakai
topi kuning,'orang memakai topi putih', di mana kesemuanya menunjuk adanya
pertautan (intersection) antara topi dan warna tertentu.
Dengan demikian, Chomsky beranggapan bahwa manusia
dilahirkan
dengan membawa kemampuan alamiah untuk berbahasa. Kita
dapat
memformulasikan bentuk-bentuk kombinasi kata tertentu
hingga terasa
masuk akal. Namun penjelasan bahwa bahasa dapat dipilah
dalam struktur
tata bahasa, belum dapat menjawab bagaimana bahasa
mengungkapkan
makna. Seorang teoretisi lain, Dan I. Slobin,
mengemukakan bahwa bayi
terlahir dengan pemahaman tata bahasa yang telah
terprogram, anak
sebenarnya memiliki suatu mekanisme pemrosesan atau
sistem untuk
mengorganisasikan informasi linguistik yang diperoleh
dari lingkungan anak
tersebut.
Slobin mengemukakan bahwa perkembangan kognitif
mendahului
perkembangan bahasa. Dengan berbagai bukti ilmiah dia
menunjukkan
bahwa anak dari kelompok bahasa yang berbeda, mempelajari
bahasa secara
berbeda tergantung pada tingkat kesulitan dari bahasa
tersebut. Bahasa yang
lebih kompleks membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
mempelajarinya,
karena anak harus membuat sejumlah pengecualian pada
prinsip bawaan
yang ada dalam setiap bahasa. Slobin sendiri
mengidentifikasi adanya empat
prinsip yang bekerja pada semua bahasa, yaitu:
memperhatikan susunan kata,
menghindari pengecualian, menghindari interupsi atau
penataan kembali
unit-unit bahasa, dan memperhatikan kata yang ada pada
bagian terakhir
kalimat.
Walau ada perbedaan antara teori Chomsky dan Slobin,
namun pada
dasarnya keduanya mendasarkan diri pada prinsip natural,
yang memandang
bahwa bahasa diperoleh secara natural. Meskipun demikian
keduanya belum
dapat menjawab makna apa yang dikaitkan dengan penggunaan
bahasa
tersebut.
2. Nurture
Approach (Pendekatan Nurtural)
Edward Sapir dan Benyamin Whorf mengemukakan teori yang
menentang perspektif alamiah (nature). Dengan memusatkan kajiannya pada
semantik (makna dari kata), mereka mengembangkan suatu teori kultural mengenai
bahasa. Mereka mengatakan bahwa latar belakang dari sistem linguistik (atau
tata bahasa) dari setiap bahasa bukan hanya suatu alat reproduksi untuk
menyampaikan gagasan, tetapi lebih sebagai pembentuk gagasan, pembentuk dan
pemandu bagi aktivitas mental individu, untuk menganalisis kesan, untuk
mensintesiskan aktivitas mental dalam komunikasi. Formulasi gagasan bukan
merupakan suatu proses independen dan bukan aktivitas rasional semata, tetapi
suatu tata bahasa tertentu yang berbeda di antara berbagai tata bahasa lain.
Jadi, bahasa adalah kultural (seperti pandangan Birdwhistel mengenai
komunikasi nonverbal). Bahkan aturan-aturan bahasa sangat
bervariasi dari
satu kultur ke kultur lain, oleh karenanya individu dari
kultur yang berbeda
akan berbeda pula cara-caranya dalam memandang dunia.
Misalnya, beberapa bahasa memiliki begitu banyak istilah untuk menyebut
'saiju', sementara sejumlah bahasa lainnya bahkan tidak memiliki satu istilah
pun, terutama bagi yang belum pernah melihatnya. Menurut Sapir dan Whorf,
bahasa dari suatu kultur akan berkaitan langsung dengan bagaimana cara-cara
kita berpikir dalam kultur tersebut_ Asumsi ini sejalan dengan pandangan
antropologis tentang relativitas kultural, yang menyatakan bahwa, karena kultur
yang berbeda memiliki bahasa yang berbeda dan pandangan hidup yang berbeda,
maka mereka juga memiliki keyakinan dan nilai-nilai yang berbeda pula.
Kedua teori yang berlawanan ini (nature vs nurture) menunjukkan bahwa baik dalam komunikasi
verbal maupun nonverbal, terdapat dua aliran yang berangkat dari posisi yang
berlawanan dalam menjelaskan bagaimana
orang memperoleh bahasa. Kontroversi ini masih terus
berlangsung tanpa
salah satu dapat mengklaim bahwa teorinya yang paling
benar, karena buktibukti yang ditunjukkan oleh kedua belah pihak belum cukup
memadai.
3. Teori
Fungsional tentang Bahasa (General Semantics)
Hanya dengan memfokuskan pada makna dari kata (dan
bagaimana
makna tersebut mempengaruhi perilaku), aliran general
semantics menganggap bahwa bahasa harus dapat lebih merefleksikan dunia di mana
kita hidup. Asumsi yang mendasari pemikiran general
semantik adalah
bahwa 'the word is not the thing'. Kata dianggap sebagai
abstraksi dari
realitas. Oleh karenanya general semantics memandang
bahwa kata harus
sedekat mungkin dengan realitas yang direfleksikannya.
Meskipun demikian
mereka menyadari bahwa ini suatu hal yang sulit, karena
ketika kata
merupakan suatu konsep yang statis dalam waktu yang
panjang, realitas selalu dalam kondisi yang berubah. Untuk memahami apa yang
menjadi kajian general semantics, kita hares mempelajari sifat-sifat simbol dan
bagaimana kita menggunakannya.
Penggunaan Simbol
Pandangan ini mengasumsikan bahwa seluruh perilaku
manusia berangkat dari penggunaan simbol. Salah seorang ahlinya yang bemama
Alfred Korzybski menganggap adanya ketidaktepatan dalam penggunaan bahasa
sehari-hari kita. Argumentasinya adalah bahwa manusia hidup dalam
dua lingkungan yang berbeda, lingkungan fisik dan
lingkungan simbolik.
Untuk memahami hal ini kita dapat menganalogikannya
dengan penggunaan
peta. Misalnya kita bertanya kepada teman kita berapa
jarak antara Jakarta-
Surabaya, dan dia menjawab: "Menurut peta sekitar 10
cm". Informasi ini
hanya memiliki arti bagi kita jika kita mengetahui skala
dari peta tersebut,
dan tentunya skala peta tersebut bukanlah 1:1 Karena jika
skalanya serupa
itu peta tersebut akan sama luasnya dengan wilayah yang
digambarkannya. Hal serupa berlaku pula pada kata. Ada satu anekdot untuk
mencontohkan hal ini, ketika seorang pengemudi sampai pada suatu perempatan
jalan dan bertanya pada orang disebelahnya apakah ada kendaraan lain yang akan
melintasi jalanan yang akan diseberanginya, dan orang yang ditanya menjawab
`hanya kijang'. Baru setelah mobil yang mereka tumpangi menyeberang dan
ditabrak oleh sebuah Toyota Kijang yang sedang melaju, arti semantik dari
'kijang' dipahami oleh keduanya.
Kata, dan pada kenyataannya semua jenis simbol, tidak
sama dengan
fenomena yang digambarkannya. Menurut Ogden dan Richards
simbol
adalah representasi ide dan ide adalah representasi
objek. Dan ketiganya
merupakan fenomena yang berbeda. Persoalan menjadi
menarik ketika kita
berbuat seolah-olah kata adalah objek yang
digambarkannya. Kita tahu
bahwa orang yang takut ular akan ketakutan jika
benar-benar melihat seekor
ular, namun kadang-kadang ada orang yang begitu takutnya
sehingga denyut
nadinya meningkat ketika mendengar kata ular. Interaksi
antara kata, maknanya dan perilaku manusia inilah yang menjadi perhatian
Korzybski
ketika dia mengemukakan teori general semantics.
Untuk mempelajari teori ini lebih jauh kita akan membahas
sejumlah
konstruk: `silent assumptions'. reaksi dan respons,
penggunaan identitas,
waktu dan ruang, multi ordinalitas, orientasi intensional
dan ekstensional, dan
tataran-tataran abstraksi.
Silent Assumptions
Dan P Millar dan Frank E. Millar mengemukakan bahwa makna
dari
suatu kata tidak terbatas dari yang kita temukan dalam
kamus. Jadi kesalahpahaman semantik terjadi karena kita terlalu sering
menggunakan
asumsi secara diam-diam. General semantics menjelaskan
bahwa kita
memiliki kecenderungan untuk berurusan dengan objek atau
benda pada
tataran abstrak. Misalnya kita tidak berurusan dengan
fenomena pada tataran
atomis, meskipun sebenarnya fenomena berubah pada tataran
ini. Seperti
telah dikemukakan oleh Korzybski bahwa tataran objektif
bukan kata dan
tidak dapat dicapai hanya dengan kata. Untuk dapat
mencapai atau memahami tataran objektif, general semantics mengajarkan kita
untuk diam
(silent), dan kondisi diam ini memungkinkan kita untuk
merespons kata
sebagai manusia daripada bereaksi terhadapnya sebagaimana
yang dilakukan
oleh hewan.
Persoalan yang muncul dari silent assumption ini adalah
ketika mengantisipasi apa yang dikatakan oleh orang lain. Oleh karenanya ketika
kita melakukan silent asssumption, kita harus menanyakan
pada diri kita
sendiri tiga pertanyaan tentang apa yang sedang dikatakan
orang lain, yaitu:
apa yang dimaksudkannya? (apakah yang dimaksudkannya
berbeda dengan
yang dikatakannya), bagaimana dia mengetahui hal yang
dibicarakannya?
(mengacu kepada sumber informasi), dan mengapa dia
mengatakan hal ini
kepada saya? (apakah kita pendengar yang sesuai dan
apakah kita merupakan sasaran dari kata-kata yang kita dengar).
Reaksi/Respons
Konstruk ini diawali oleh asumsi bahwa manusia bereaksi
seperti yang
dilakukan hewan melalui apa yang disebut respons yang
dikondisikan. Orang
dapat dengan mudah dipaksa untuk bereaksi pada slogan,
nama, hasrat, dan
sebagainya, dalam bentuk yang hampir sama seperti ketika
hewan dikondisikan untuk bereaksi terhadap suatu tanda tertentu. Misalnya hat
ini
terlihat pada reaksi pengikut Hitler pada Swastika dan lambang-lambang
lainnya, demikian pula dengan reaksi terhadap simbol
AIDS, di mana banyak dari kita tidak ingin diasosiasikan dengan simbol
tersebut.
Korzybski, sebaliknya, menekankan bahwa kita seharusnya
tidak meniru
binatang. Respons kita haruslah kondisional, bukan
dikondisikan. Artinya
respons kits harus melalui penundaan (delayed) dan
modifikasi, bukan
otomatis. Untuk mencapai hat ini kits harus belajar
menghindar dari suatu reaksi yang baku (stereo type) terhadap kelas atau
kelompok orang, dan menyadari adanya perbedaan-perbedaan di antara individu
anggota kelompok atau kelas dan menyesuaikan respons kita.
Identitas
Alasan utama mengapa kits cenderung untuk bereaksi
daripada merespons adalah karena kita melihat kesamaan absolut atau identitas.
Sedikitnya ada tiga alasan bagi kecenderungan ini, yaitu:
nama adalah suatu
karakteristik penting dari benda atau objek, keunikan
benda atau objek
berada di dalam nama, dan jika suatu benda atau objek
tidak memiliki nama
maka is menjadi tidak eksis atau tidak dianggap. Jadi
terdapat orang-orang
yang beranggapan bahwa, misalnya, semua
"perceraian" memiliki makna
yang sarna atau semua pengertian `demonstrasi' adalah
sama, padahal dalam
situasi yang nyaris sama orang atau hat-hat lainnya akan
selalu berbeda.
Konstruk tentang identitas berkaitan erat dengan dua
konstruk lain dalam
teori general semantics, yaitu: `nonallness' dan
'nonadditivity'. Nonallness
berarti bahwa kita tidak dapat mengatakan segala
sesuatunya secara lengkap
mengenai semua hat. Oleh karenanya ketika melihat adanya
kesamaan dalam
beberapa hat, kita cenderung untuk mengabaikan
perbedaan-perbedaannya.
General semantics merekomendasikan kita untuk menggunakan
'dan
sebagainya' untuk memberikan gambaran bahwa terdapat
hal-hal lain yang
tidak kita ketahui ketika mendeskripsikan sesuatu pada
saat berbicara.
Konstruk
nonadditivity kita lakukan ketika kita menambahkan sesuatu
dan hasilnya dapat memiliki arti yang lain. Misalnya
ketika seorang guru
berkata kepada guru lainnya: "Bisakah Anda menerima
seorang murid lagi
untuk kelas Anda?" Karena tidak ada dua hat yang
sama persis, menerima
seorang murid yang sekedar duduk di dalam kelas adalah
berbeda dengan
menerima seorang murid yang sangat partisipatif di dalam
kelas. Oleh
karenanya menambahkan sesuatu tidak hanya sekedar
menghasilkan hat yang
sama dalam jumlah yang lebih besar, seperti yang
dikondisikan oleh kata atau
bunyi, melainkan menghasilkan suatu perilaku komunikatif
yang berbeda.
Keterikatan pada Waktu dan Ruang
General semantics mengemukakan bahwa segala sesuatu di
dalam
lingkungan fisik akan terus-menerus berubah. Kita tidak
sama dengan diri
kita sepuluh tahun yang lalu, bahkan juga tidak sama
dengan diri kita sepuluh
detik yang lalu, karena set dalam tubuh kita berkembang,
mati dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada benda mati, karena molekul
akan selalu berubah atau bergerak. Fenomena ini kita
sebut `keterikatan
waktu' (time-binding).
Selain itu jugs terjadi `keterikatan
ruang' (space-
binding). Karena orang berada dalam. tempat atau ruang
yang berbeda,
mereka akan mempersepsikan sesuatu secara berbeda-beda.
Contoh yang
paling sederhana dari hat ini adalah sebab-sebab dari
terjadinya suatu
kecelakaan lalulintas. Dua aspek dalam dimensi ruang
adalah jarak dan posisi
relatif. Seperti halnya dengan waktu, ruang adalah suatu
fenomena yang pasif
dan penyebab perubahan (catalytic). Benda atau objek atau
hal, harus berada di dalarn suatu ruang, harus memiliki jarak (dekat atau jauh)
dari benda,
objek, atau hal lainnya, dan meskipun memiliki jarak yang
sama, mereka
harus menempati posisi yang berbeda. Dimensi ruang
mencakup tataran fisik
(persepsi dan jarak), tataran psikologis (perasaan,
keadaan, dan sebagainya),
dan tataran kultural (norma, nilai)
Multiordinalitas
Multiordinalitas menjelaskan mengenai pernyataan yang
bertingkat-
tingkat. Misalnya kita berkata bahwa `kucing belang
berlari lebih cepat
daripada kucing hitam'. Lalu kita bergerak pada tataran
abstraksi yang lebih
tinggi dan membuat pernyataan lain mengenai pernyataan
ini, seperti misalnya `itu benar' atau `itu salah' atau `kalau pernyataan itu
benar berarti ada hubungan antara pigmen dengan struktur otot'.
Pemyataan-pernyataan ini ada pada tataran abstrak yang lebih tinggi daripada
pernyataan yang pertama, karena semuanya merupakan pernyataan mengenai
pernyataan yang pertama. Jadi kata 'pernyataan' dianggap memiliki multiordinal
yang dapat digunakan pada tataran, atau tingkatan abstraksi yang berbeda, dan
makna dari tiap-tiap tatarannya juga berbeda.
Contoh lain adalah kata 'cinta' Kita dapat mencintai
suatu bangunan, seorang gadis, sebuah lukisan, sebuah teori, sebuah pertarungan
sengit. Semua 'cinta' ini berada pada tataran abstraksi yang sama, tetapi cinta
juga dapat bergerak ke tataran yang lain. Jadi kita dapat mencintai `kecintaan'
kita terhadap seorang gadis, dan sebagainya. Ini adalah cinta pada tataran
kedua, yang berbeda dari cinta pada tataran pertama karena melibatkan proses
psikoneurologis yang berbeda.
Orientasi Intensional dan Ekstensional
Konstruk ini menjelaskan bagaimana orientasi orang ketika
merespons
suatu hal. Menurut Irving J. Lee, orientasi `intensional'
didasarkan pada
definisi verbal, asosiasi, dan sebagainya, yang
mengabaikan observasi. Jadi
seperti ungkapan `bicara dulu, tanpa peduli bagaimana
kenyataannya'.
Orientasi ekstensional didasarkan pada susunan observasi,
investigasi, dan sebagainya, terlebih dahulu sebelum membicarakannya.
Beberapa karakteristik dari orientasi internal adalah:
orang lebih memperhatikan nama dan apa yang dikatakan mengenai suatu hal
daripada kepada kenyataan; orang merespon kata atau pernyataan sebagaimana
merespon objek yang digambarkan oleh kata tersebut; orang tidak merasa yakin
dengan kenyataan yang dihadapinya; dan orang menggunakan pembuktian verbal,
ketimbang fakta yang nyata.
General semantics lebih mendukung orientasi eksternal,
yang artinya
merekomendasikan seseorang untuk lebih dulu mencari
faktanya. Oleh
karenanya, kata-kata lain yang banyak menandai teori ini
adalah seperti
`observasi', `keingintahuan' `pengungkapan',
`penelitian', dan 'pengujian'
4. Konstruktivisme:
Perspektif Pesan dalam Bahasa
Jesse G. Delia dan Ruth Anne Clark mengemukakan suatu
teori yang
dikenal sebagai Konstruktivisme. Teori ini menaruh
perhatian pada proses
berpikir yang terjadi sebelum pesan dikemukakan dalam
suatu tindakan komunikasi. Mereka menyebut proses berpikir ini sebagai `kognisi sosial'. Analisis mereka telah
membawa kepada usaha untuk memahami bagaimana orang menyusun dan mengubah suatu
`impresi/kesan' pada orang lain, dan bagaimana kesan digunakan untuk menyusun
strategi pesan serta bagaimana orang merasionalisasikan strategi tersebut.
Beberapa prinsip penting dari teori mereka adalah,
konstruksi episodik dan disposisi seseorang diorganisasi oleh skemata
interpersonalnya. Skemataskemata interpersonal ini adalah kognisi atau
pemikiran mengenai bagaimana kita berpikir (menganggap atau memperkirakan)
mengenai apa yang akan dilakukan oleh orang lain. Skemata-skemata interpersonal
ini diorganisasi ke dalam semacam sistem (skema), dan pola-pola dalam sistem
ini mencakup interpretasi dan penyimpulan, serta pola-pola 'konstruksi' yang
kita gunakan untuk menjelaskan perilaku orang lain.
Prinsip kedua adalah, organisasi kesan interpersonal
memberikan
pemahaman dan antisipasi atas orang lain secara
kontekstual dan relevan.
Dalam hal ini orang bertindak seolah-olah sebagai
psikolog-sosial yang
mencoba menggunakan suatu pola konsepsional untuk
menjelaskan,
memahami, dan memperkirakan perilaku orang lain di dalam
berbagai
konteks.
Prinsip ketiga, variasi sistematis dalam konstruk dan
skemata interpersonal yang berkembang sebagai suatu fungsi pengalaman sosial,
memberikan perbedaan kapasitas untuk membentuk
kesan-kesan yang
terorganisasikan dan stabil dalam waktu dan konteks yang
berbeda. Jadi, orang yang lebih banyak memiliki pilihan dalam menilai orang
lain, dan lebih abstrak pemikiran konstruksi interpersonalnya, cenderung lebih
mampu memformulasikan pandangan yang terorganisasi mengenai orang lain.
Misalnya, dalam berinteraksi dengan orang yang tidak kita
sukai, maka pemikiran kita mengenai orang tersebut diwarnai oleh perasaan kita
mengenai orang-orang lainnya yang tidak kita sukai. Jadi, kita dapat menilai
orang lain sebagai buruk/jahat hanya karena satu atau dua sebab, atau kita
mungkin telah memiliki sebelumnya rasa tidak suka pada orang tersebut yang
didasarkan atas variasi kognisi ita. Dalam waktu yang
lama sepanjang tidak
ada kognisi lain yang menandingi, kesan kita terhadap
orang tersebut akan
stabil, dan kita cenderung untuk memahami dan memprediksi
perilakunya
berdasarkan kesan tersebut.
Dari penjelasannya tersebut, Delia dan Clark telah
mengemukakan
bahwa bahasa digunakan untuk menilai apa yang akan
dirasakan oleh orang
lain terhadap suatu pecan yang disampaikan kepadanya,
sebelum pesan itu
sendiri sepenuhnya disusun. Oleh karenanya, individu
dengan kecakapan
bahasa yang lebih baik akan mampu menyusun pesan secara
lebih tepat dan
jelas kepada berbagai jenis orang dalam berbagai situasi
spesifik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar