NIM : C1D3 14 106
PERSPEKTIF TEORI DAN PARADIGMA DALAM
KONTEKS KOMUNIKASI
Perspektif berdasarkan pada konteks
komunikasi menekankan bahwa manusia aktif memilih dan mengubah aturan-aturan
yang menyangkut kehidupannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik
individu-individu yang berinteraksi harus menggunakan aturan-aturan dalam
menggunakan lambang-lambang. Bukan hanya aturan mengenai lambang itu sendiri,
tetapi juga harus ada aturan atau kesepakatan dalam hal berbicara, bagaimana
bersikap sopan santun atau sebaliknya, bagaimana harus menyapa, dan sebagainya,
agar tidak terjadi konflik atau kekacauan.
Perspektif ini memiliki dua ciri utama:
1. Aturan
pada dasarnya merefleksikan fungsi-fungsi perilaku dan kognitif yang kompleks
dari kehidupan manusia.
2. Aturan
menunjukan sifat-sifat dari keberaturan yang berbeda dari keberaturan sebab
akibat.
Para ahli penganut aliran evolusi
mengemukakan bahwa dalam mengamati tingkah laku manusia, perspektif ini
menunjuk tujuh unsur di mana masing-masing mempunyai penekanan yang berbeda
dalam pengamatannya. Diantaranya:
1. Memfokuskan
perhatiannya pada pengamatan tingkah laku sebagai aturan.
2. Mengamati
tingkah laku yang menjadi kebiasaan.
3. Menitikberatkan
perhatiannya pada aturan-aturan yang menentukan tingkah laku
4. Mengamati
aturan-aturan yang menyesuaikan diri dengan tingkah laku.
5. Memfokuskan
pengamatannya pada aturan-aturan yang mengikuti tingkah laku.
6. Mengikuti
aturan-aturan yang menerapkan tingkah laku.
7. Memfokuskan
perhatiannya pada tingkah laku yang merefleksikan aturan.
Dalam konteks komunikasi pemikiran
perspektif juga menekankan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil atau
refleksi dari penerapan aturan yang disepakati bersama.
Dalam hal ini ada empat proposisi yang
diajukan:
1. tindakan-tindakan
yang bersifat gabungan, kombinasi dan asosiasi merupakan ciri-ciri perilaku
manusia.
2. Tindakan-tindakan
di atas disampaikan melalui pertukaran informasi simbolis.
3. Penyampaian
informasi simbolis menuntut adanya interaksi antarsumber, pesan, dan penerima
yang sesuai dengan aturan komunikasi yang disepakati.
4. Aturan-aturan
komunikasi ini mencakup pola-pola umum dan khusus.
Pengertian Teori
Teori adalah abstraksi dari realitas. Teori
terdiri dari sekumpulan prinsip dan definisi yang secara konseptual
mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris secara sistematis. Sedangkan
Llittle John and Foss (2005: 4) mengatakan “ A Theory is a system of thought, a
way of looking”. Jadi dapat disimpulkan teori merupakan konseptualisasi
mengenai aspek dunia empirik tentang suatu fenomena, peristiwa atau gejala yang
telah tersusun secara sistematis dengan penjelasan yang logis.
Didalam dunia akademisi teori dijadikan
alat berpikir untuk mempelajari peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala yang ada
disekitar. Peristiwa atau gejala tersebut disebut dengan data atau fakta.
Dalam proses pembuatan teori, Little John
dan Foss (2005) memberikan gambaran sederhana yang mencakup tiga hal sebagai
berikut:
1. Mengembangkan
pertanyaan. Misal: ketika kita menemukan suatu fenomena , pastinya kita akan
menanyakan fenomena apa ini?
2. Pengamatan.
Misal: setelah kita meemukan suatu fenomena, tentunya tidak berhenti sekedar
menanyakan fenomena apa ? tetapi juga harus mengamati dan bertujuan mencari
mengapa fenomena itu terjadi?
3. Mengkonstruksi
jawaban. Biasanya jawaban dari setiap pertanyaan disusun secara sistematis dan
logis. Tahapan inilah yang disebut menyusun teori.
Menurut Little John penjelasan dalam teori
berdasarkan prinsip keperluan (the principal of necessity) terbagi menjadi tiga
macam yaitu:
• Causal
Necessity (keperluan kausal), yaitu penjelasan yang menerangkan hubungan sebab
akibat.
• Practical
Necessity (keperluan praktis), yaitu penjelasn yang menunjukkan kondisi
hubungan tidakan-konsekuensi.
• Logical
Necessity (keperluan logis), yaitu x dan y secara konsisten akan selalu
menghasilkan x.
Karena teori adalah konstruksi ciptaan
manusia secara individual, maka sifatnya relatif, dalam arti tergantung pada
cara pandang si pencipta teori, sifat dan aspek yang diamati, serta
kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat, dan lingkungan
sekitar diamana teori tersebut di buat.
Menurut Abraham Kaplan (1964), sifat dan
tujuan teori bukan semata-mata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi
juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan
fakta tersebut. Dengan demikian teori yang baik adalah teori yang sesuai dengan
realitas kehidupan. Apabila konsep dan pejelasan tidak sesuai dengan relaitas,
maka teori demikian dinamakan teori semu. Jadi teori yang baik harus memenuhu
kedua unsur tersebut:
1. Teori
yang sesuai dengan reallitas kehidupan
2. Teori
yang konseptualisasi dan penjelasannya didukungoleh fakta serta diterapkan
kedalam kehidupan nyata.
Fungsi teori menurut Little John (1989) ada
sembilan:
1. Mengorganisasikan
dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal.
2. Memfokuskan.
Pada dasarnya teori hanya menjelaskan suatu hal bukan banyak hal.
3. Menjelaskan.
Maksudnya teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamati.
4. Pengamatan.
Teori tidak saja menjelaskan tentang apa yang sebaiknya diamati tetapi juga
memberikan petunjuk bagaimana “cara” mengamatinya.
5. Prediksi
atau perkiraan. Fungsi ini penting sekali bagi bidang-bidang kajian ilmu
komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam
organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relations dan media
massa.
6. Heuristik.
Fungsi ini harus mampu menstimuli penelitian selanjutnya, bila konsep-konsepnya
jelas dan memiliki penjelasan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan
bagi penellitian-penelitian selanjutnya.
7. Komunikasi.
Teori ini harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap
kritik-kritik, sehingga penyempurnaan teori dapat dilakukan.
8. Normatif.
Mampu mengontrol kehidupan manusia atau masyarakat, karena teori ini sangat
berpotensi berkembang menjadi norma-norma atau nilai-nilai yang dipegang dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari.
9. Generatif.
Mampu menjadi sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk
menciptakan pola dan cara kehidupan baru. Fungsi ini terutama menonjol
dikalangan pendukung teori kritis.
Paradigma Komunikasi
Paradigma diartikan sebagai kacamata atau
sudut pandang dalam melihat obyek sesuatu yang diamati. Menurut Kuhn (1970).
Paradigma adalah satu kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi
dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Paradigma juga inti dari ilmu
pengetahuan. Kalau kita ingin melakukan perubahan maka kita harus melakukan
perubahan paradigma.
Meskipun paradigma memiliki posisi dan kedudukan
yang kuat dalam ilmu pengetahuan, namun paradigma dapat mengalami perubahan
sesuai kemajuan pengetahuan dan kepentingan praktis masyarakat. Disiplin ilmu
lahir sebagai proses revolusi paradigma. Bisa jadi, suatu pandangan teori
ditumbangkan oleh pandangan teori baru yang mengikutinya.
Penggolongan paradigma bermacam-macam
sesuai dengan asumsi-asumsi dan cara pikir ahli dibidangnya masing-masing.
Menurut Dedy N. Hidayat paradigma dalam ilmu komunikasi mengikuti paradigma
yang banyak dilakukan dalam ilmu sosial, paradigma-paradigma tersebut
diantaranya:
1. Paradigma
Klasik
Paradigma ini menempatkan ilmu-ilmu sosial
seprti halnya ilmu-ilmu alam fisika. Menempatkan ilmu sosial sebagai metode
yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan
empiris. Bertujuan menemukan hubungan sebab akibat yang dapat digunakan
memprediksi pola-pola umum dari gejala sosial tertentu.
2. Paradigma
Konstruktivisme
Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai
analisis sistematis terhadap socially meaningful action. Ilmu diperoleh melalui
pengamatan langsung dan rinci terhadap prilaku sosial dalam suasana keseharian
yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial
yang bersangkutan menciptakan atau mengelola dunia sosial mereka.
3. Paradigma
Kritis
Paradigma ini mendefinisikan ilmu sebagai
suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap “the real structures”
dibalik ilusi atau kesadaran palsu yang ditampakkan dipermukaan. Bertujuan
membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar seseorang atau masyarakat dapat
memperbaiki dan merubah kondisi kehidupannya.
Ada juga pengelompokan paradigma ilmu
komunikasi yang dilakukan oleh pakar lain, antara lain Guba dan Lincoln (1994)
yang membagi ilmu-ilmu sosial menjadi empat paradigma, yaitu: Positivism,
Postpositivism, Constrictivism, Critical.
Tabel berikut merupakan perbedaan data,
sifat dan gaya bahasa dalam masing-masing paradigma.
Tabel. 1 Jenis Data, sifat dan Gaya Bahasa
menurut Hamad (2005)
Paradigma Positivism Paradigma Constructivism Paradigma Critical
Bersifat Objektif Bersifat Subjektif Realitas dibalik kenyataan yang
tampak.
Data adalah hasil pengamatan peneliti
terhadap sebuah objek penelitian. Atau jawaban responden yang alternatifnya
telah disiapkan oleh si peneliti. Data adalah jawaban yang menjadi perasaan dan
keinginan pihak yang diteliti untuk menyatakannya Data merupakan hasil
penggalian terhadap realitas yang terlihat guna menemukan sesuatu dibalik itu
yang berupa kekuasaan, ideologi dan sejenisnya.
Menggunakan bahasa formal dan standar.
Menggunakan teknik menceritakan kembali. Menggunakan bahasa informal dan
indegenous. Menggunakan teknik “penyambung lidah pihak yang diteliti atau
subjek penelitian” Menggunakan
bahasa informal dan advokatif. Menggunakan teknik “menggugah kesdaran pembaca
dari apa yang dirasakan korban”.
Persamaan dan Perbedaan antara Perspektif
Teori dan Paradigma dalam konteks ilmu komunikasi
• Persamaan
Dari penjelasan diatas mengenai teori dan
paradigma dalam konteks komunikasi, maka dapat dilihat persamaan diantara
perspektif teori dan paradigma, diantaranya:
1. Teori
dan paradigma sama-sama berawal dari pengetahuan.
2. Paradigma
dapat mengalami perubahan sesuai kemajuan pengetahuan dan kepentingan
masyarakat. Begitu pula dengan teori, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan
maka teori yang lama dapat ditumbangkan dengan teori-teori baru.
• Perbedaan
1. Teori
merupakan konseptualisasi mengenai fenomena yang disusun secara sistematis dan
logis. Sedangkan Paradigma merupakan satu kerangka referensi atau pandangan
dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori.
TIPOLOGI TEORI KOMUNIKASI
Untuk memahami konteks teori komunikasi
dapat dilihat dari luas cakupan orang yang terlibat dalam suatu gejala
komunikasi. Berikut ini merupakan tipologi atau pengelompokkan teori
komunikasi, diantaranya:
• Intrapersonal
communication
Teori tentang bagaimana seseorang individu
mengubah pesan atau gejala komunikasi atau peristiwa komunikasi dengan dirinya.
Pada teori ini, model komunikasi yang
digunakan adalah model komunikasi yang dibuat oleh Aristoteles. Dimana teori
ini mencakup tiga hal, yakni unsur sumber, pesan dan penerima. Model ini
dinilai sebagai model klasik atau model pemula komunikasi.
• Interpersonal
communication
Komunikasi yang terjadi antara dua orang
yang mengolah pesan atau peristiwa komunikasi untuk meningkatkan atau
menurunkan intensitas atau kualitas hubungan, yang biasanya bersifat pribadi.
Salah satu model yang digunakan untuk
menggambarkan proses komunikasi adalah model sirkular yang dibuat oleh Osgood
bersama Schramm. Model ini menggambarkan komunikasi sebagai proses yang
dinamis, dimana pesan ditrasmit melalui proses encoding dan decoding. Encoding
adalah translasi yang dilakukan oleh sumber atas sebuah pesan, dan decoding
adalah hubungan antar sumber dan penerima secara simultan dan mempengaruhi satu
sama lain. Kemudian interpreter pada model sirkular ini bisa berfungsi ganda
sebagai pengirim dan penerima pesan.
• Groups
communication
Komunikasi yang terjadi dalam suatu
kelompok kecil. Komunikasi kelompok mengamati interaksi yang terjadiantar
anggota kelompok. Biasanya Melibatkan lebih dari dua orang dan komunikasi
dilakukan secara bergantian.
Pada tipologi teori komunikasi ini,
digunakan model komunikasi partisipasi yang dibuat oleh D. Lawrence Kincaid dan
Everett M. Rogers. Model ini mngembangkan sebuah model komunikasi berdasarkan
prinsip pemusatan yang dikembangkan dari teori informasi dan sibernetik. Dalam
model komunikasi ini Kincaid menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses
dimana dua orang atau lebih saling menukar informasi untuk mencapai kebersamaan
pengertian satu sama lainnya dalam situasi dimana mereka berkomunikasi. Saling
pengertian ini adalah kombinasi estimasi seseorang dengan orang lain terhadap
pesan.
• Public
communication
Komunikasi ini dilakukan antara satu orang
(nara sumber) kepada sekelompok orang. Komunikasi dilakukan untuk suatu tujuan
atau konteks tertentu sesuai kepentingan kelompok orang tersebut. Pesan
ditujukan kepada sejumlah (atau sejumlah besar) orang. Khalayak terhimpun pada
suatu tempat atau lokasi (atau dihimpun melalui media atau teknologi).
• Mass
communication
Komunikasi massa ditujukan untuk
menyampaikan informasi tertentu kepada sejumlah besar orang. Adapun
karakteristik komunikasi massa melibatkan sejumlah besar khalayak, Khalayak
tidak terhimpun, Khalayak heterogen, Khalayak anonim (tidak saling mengenal),
Komunikasi dilakukan dengan menggunakan media (media massa) seperti: televisi,
surat kabar, radio film, musik dll.
Teori komunikasi massa biasanya bernuansa
teori efek media terhadap manusia. Model-model komunikasi yang ada dalam teori
komunikasi massa diantaranya:
1. Model
Komunikasi Satu Tahap
Model ini merupakan pengembangan dari teori
komunikasi jarum hipordemik. Pesan yang disampaikan media massa langsung
ditunjukkan kepada komunikan tanpa melalui perantara, misalnya opinion leader.
Pada model ini dinilai sebagai model klasik atau positivism, karena model satu
tahap komunikan masih dianggap pasif dan pesan langsung disampaikan tanpa adanya
perantara dari pemuka pendapat. Dengan kata lain, pesan yang diterima oleh
komunikan adalah objektif tanpa adanya penyeleksian terhadap pesan yang baik
maupun yang buruk.
2. Model
Komunikasi Dua Tahap
Model komunikasi dua tahap ini ada beberapa
tahap, yakni: tahap pertama, dari sumber informasi ke pemuka pendapat tahap ini
merupakan proses pengalihan informasi; tahap kedua dari pemuka pendapat
dilanjutkan kepada pengikutnya, tahap ini merupakan proses penyebarluasan
pengaruh. Model ini memandang massa sebagai individu-individu yang aktif
berinteraksi. Dalam model komunikasi dua tahap ini, bisa dinilai sebagai model
konstruktivis. Karena sebelum pesan dilanjutkan kepada komunikan, informasi
yang diberikan dimulai dari pemuka pendapat. Proses pertama tersebut, pemuka
pendapat menilai informasi berdasarkan subjektifitasnya dan kemudian mereka
melakukan proses penyebarluasan pengaruh kepada pengikutnya. Pada model ini,
komunikan sudah mulai aktif, dimana pesan atau informasi yang diberikan akan
terlebih dahulu diseleksi yang akhirnya akan diputuskan untuk mengikuti atau
menolak pesan tersebut.
3. Model
Komunikasi Banyak Tahap
Model komunikasi ini menyatakan bahwa bagi
lajunya komunikasi dari komunikator kepada komunikan terdapat sejumlah saluran
yang berganti-ganti. Artinya beberapa komunikan menerima pesan langsung dari
komunikator melalui saluran media massa lalu menyebarkannya kepada
komunikannya. Pesan terpindahkan beberapa kali dari sumbernya melalui beberapa
tahap. Pada model ini berarti komunikan sebagai individu-individu yang aktif
menilai informasi atau pesan secara subjektif.
4. Model
Uses and Gratifications
Uses and Gratifications (model kegunaan dan
kepuasaan) merupakan pengembangan dari model jarum hipodermik. Model ini tidak
tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri seseorang, tetapi ia tertarik
pada apa yang dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif
menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Studi dalam bidang ini
memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) media untuk mendapatkan kepuasan
(gratifications) atas kebutuhan seseorang. Oleh karena itu, sebagian besar
prilaku khalayak akan dijelaskan melalui berbagai kebutuhan (needs) dan
kepentingan individu. Jika khalayak aktif dalam model ini, maka informasi atau pesan
dinilai secara subjektif oleh masing-masing individu.
5. Model
Agenda Setting
Agenda setting menghidupkan kembali model
jarum hipodermik, tetapi fokus penelitian telah bergeser dari efek pada sikap
dan pendapat kepada efek kesadaran dan efek pengetahuan. Dasar pemikiran model
ini adalah berbagai topik yang dimuat media massa, topik yang lebih banyak
mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya.
Akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan menjadi sebaliknya
bagi topik yang kurang mendapat perhatian bagi media massa.
Oleh karena itu, model agenda setting
menekankan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media massa
pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan
tersebut. Dengan kata lain, apa yang dianggap penting oleh media, maka akan
dianggap penting pula oleh masyarakat dan apa yang dilupakan media, akan luput
juga dari perhatian masyarakat. Efek dari model setting, terdiri atas efek
langsung dan efek lanjutan. Efek langsung berkaitan dengan isu. Sedangkan efek
lanjutan berkaitan dengan persepsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar