Rabu, 20 April 2016

BERITA FEATURE

SYAHRULLAH A.M. : MAHASISWA BERSERAGAM SATPAM
xxxxxxxxx

          Sebuah senyum manis di bibir pria berkulit kuning langsat tercurahkan saat saya bertemu dengannya. Arul, sapaan akrab untuknya, bercerita dari sebuah pos jaga gedung perpustakaan UHO, tentang seragam yang digunakannya mampu mengantarkan ia meraih cita-cita.
          Pria berkelahiran Jeneponto, Sulawesi Selatan ini merupakan seorang mahasiswa yang sah terdaftar di Univeristas Halu Oleo (UHO), dengan jurusan Jurnalistik angkatan 2015. Menurut sebagian orang menjadi mahasiswa bukan hal yang sukar, tapi berbeda dengan Arul.
          Sebelum tinggal di kendari, ia bertetap di SP 6 Konsel dan merupakan lulusan salah satu SMK disana, yaitu SMK 1 Benua (sekarang SMK 7 Konsel), yang berhasil mengantarkannya mendapat ijazah Teknik Mesin.    3 tahun bersekolah disana, bukan hanya isapan jempol belaka, karena ia mampu sukses menjuarai kelasnya selama 5 semester.
Setelah lulus dari putih abu-abu, niatnya ingin sekali langsung melanjutkan pendidikan ke bangku mahasiswa yang telah lama ia angan-angankan, tapi Tuhan berkehendak lain dengan niat mulianya itu, perihal kedua orang tua yang tak mampu secara finansial.
          Bapaknya yang waktu itu seorang penggarap lahan pekebunan orang lain, serta ibunya yang hanya sebagai ibu rumah tangga tak mampu membiayai dirinya meraih S1, apalagi ditambah dua adiknya yang sama-sama masih bersekolah pendidikan dasar, alhasil dia hanya bisa menganggur selama setahun. Tapi sekali lagi, ia ingin kuliah.
          Jadi bagaimana caranya ia berkuliah ? apakah ia mendapat uang dari sanak keluarganya ?
          “Tuhan maha penyayang laah. Jadi jika kita berniat teguh dan selalu berdoa kepadanya, InsyaAllah, selalu ji diberikan jalan.” jawab Arul sambil tersenyum melepas topi jaganya.
          Setahun sebelum diterimanya jadi mahasiswa, Arul di telepon oleh omnya yang ada di kendari untuk ditawari kerja.
          “Sebenarnya, waktu itu saya juga sudah ada mi pekerjaan. saya disewa bekerja untuk mengambil buah coklat milik tetanggaku, tapi tentu tidak seberapa. Yaaaah.. tapi hasilnya tentu saja untuk biaya pendaftaran kuliahku nanti.” Ujarnya.
          Tanpa pikir panjang lagi, arul dengan dada sesak penuh kebahigaan meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berangkat ke Kendari. Dengan persetujuan kedua orang tuanya, hari itu juga Arul langsung menaiki mobil antar kota jam 9 pagi, yang ia singgahkan tepat di depan rumahnya. Waktu itu pikirnya hanya satu, KULIAH...
          Rp. 45.000,00 adalah harga yang harus di tunaikannya selama 2 jam perjalanan SP 6 – Kendari. Bukan harga yang murah untuk orang seperti dia. Namun sebuah cita-cita yang menggantung di angannya, adalah harapan yang ingin ia wujudkan. 
          “Setelah ketemu dengan omku di sini (Kendari), saya langsung mi ditawarkan kerja sebagai security di UHO. Tentu mi saya terima dengan senang hati. Bukan apa-apa, gajinya lumayan untuk tabunganku nanti” kata Arul mengenang masa itu.
          Esok harinya, Arul langsung ke gedung rektorat bersama omnya yang notabene satpam senior di UHO. Setelah melakukan beberapa rangkaian tes fisik seperti push up, lari keliling lapangan bola, dan sebagainya, Alhamdulillah ia diangkat jadi satpam disana.
          Sudah 5 bulan ia bekerja jadi satpam. Penghasilan yang standar     Rp. 1.000.000,00 digunakan sebaik mungkin. Sebagian untuk membantu keadaan keuangan keluarganya di Konsel, dan sebagian lagi di tabung untuk kuliah. Dan dari semua kerja kerasnya setelah 7 bulan pengangkatannya sebagai satpam, tibalah hari H yang ditunggukannya.
          “Sudah lama mi saya tunggu hari itu sebenarnya. Saya sudah siapkan mi jauh hari sebelumnya. Pas waktu jagapun saya belajar juga, pokoknya dimana-mana saya belajar” ungkapnya sambil tesenyum.
          Ketidakmahiran Arul dalam berteknologi, membuatnya harus melibatkan kemampuan sepupunya untuk mendaftar online. Hingga pada hari ia mendaftar,  Arul berhasil mendapatkan nomor peserta 3158412389. Jurusan Jurnalistik yang digandrungipun jadi pilihan.
          Bulan Mei jadi perjuangan tinta hitam diatas lembar putih ujian Syahrullah A.M., Aula Kedokteran jadi saksi, betapa cita-cita yang diharapkan ingin diwujudkan. Usahanya yang dalam 7 bulan berbuah manis, menempatkan namanya sebagai mahasiswa yang sah terdaftar di jurusan Jurnalistik UHO.
          “Saat itu perasaan saya bercampur aduk, dari senang jadi anak kuliah, sampai sesak pembayaran ini itu.” Kata Arul
          Satu tekad dalam hati “Kuliah”, sudah membawanya sejauh ini. Perasaan bangga, bahagia, terharu tidak terbendung sendiri. Pesan bahagia inipun di beritakan pula ke kedua orang tuanya, dan apa yang mereka rasakan sama dengan Arul.
          Sudah 1 tahun sejak Keberhasilan Arul meraih cita-citanya, dan sekarang ia sudah resmi menjadi mahasiswa Jurnalistik yang terdaftar di UHO. NIM C1D315046 jadi kebanggan tersendiri baginya. Tapi Arul tetap jadi mahasiswa berseragam satpam. Ia kuliah sambil kerja.
          Bagaimana pembagian waktu kerja dan kuliah bila bertabrakan ?
          “Yah Alhamdulillah, semua seniorku di sini pengertian  ji. Jadi kalau jadwalku bertabrakan, saya izin dulu ke pimpinanku. Kalau sudah diizinkan, saya masuk mi kuliah. Terus kalau sudah mi kuliah saya langsung ke pos yang ditentukan untuk jaga.” Jawabnya tersenyum.
          Apakah ada kerja sampingan lain ?
          “Ada !!! jadi begini sebenarnya. Sambil menyelam minum air. Maksudku, lagi jaga saya mengojek mi juga. Ngojekku itu untuk uang keperluan lain-lain sebagai biaya tambahan. Seperti uang buku, terus uang bayar cicilan motorku juga, dan banyak lagi.” Katanya.
          Kekuatan Arul disini adalah genggaman tekad yang teguh dan kuat untuk berkuliah, yang akhirnya mampu membawa dirinya sampai kejenjang perkuliahan seperti apa yang dicita-citakan. Menurutnya biaya bukan masalah bagi seseorang,  jika ia mau berusaha dan terus selalu berdoa.
Kini semua keluarga Syahrullah sudah bertetap tinggal di Kendari untuk kehidupan yang lebih layak. Bapaknya yang dulu seorang penggarap lahan oran lain, kini sudah menjadi satpam di pasar Korem. Ibunya yang dulu hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, sekarang sudah mulai memasarkan kue ke toko-toko. Upah yang di dapat ini, sudah terbilang cukup mampu memenuhi kebutuhan finansial keluarga, apa lagi kakak pertamanya dari empat bersaudara sekarang sudah kerja di Bakso Senayan, Wua-wua sebagai karyawan.
Semoga kisah inspiratifmu Syahrullah, dapat kita jadikan panutan bahwa kerja keraslah dan sebuah doa yang membuat seseorang dapat meraih cita-citanya. Amiiiiiin......


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar