SYAHRULLAH A.M. : MAHASISWA BERSERAGAM SATPAM
xxxxxxxxx
Sebuah senyum manis di bibir pria
berkulit kuning langsat tercurahkan saat saya bertemu dengannya. Arul, sapaan
akrab untuknya, bercerita dari sebuah pos jaga gedung perpustakaan UHO, tentang
seragam yang digunakannya mampu mengantarkan ia meraih cita-cita.
Pria
berkelahiran Jeneponto, Sulawesi Selatan ini merupakan seorang mahasiswa yang
sah terdaftar di Univeristas Halu Oleo (UHO), dengan jurusan Jurnalistik
angkatan 2015. Menurut sebagian orang menjadi mahasiswa bukan hal yang sukar,
tapi berbeda dengan Arul.
Sebelum tinggal di kendari, ia
bertetap di SP 6 Konsel dan merupakan lulusan salah satu SMK disana, yaitu SMK
1 Benua (sekarang SMK 7 Konsel), yang berhasil mengantarkannya mendapat ijazah
Teknik Mesin. 3 tahun bersekolah disana, bukan hanya isapan
jempol belaka, karena ia mampu sukses menjuarai kelasnya selama 5 semester.
Setelah lulus
dari putih abu-abu, niatnya ingin sekali langsung melanjutkan pendidikan ke
bangku mahasiswa yang telah lama ia angan-angankan, tapi Tuhan berkehendak lain
dengan niat mulianya itu, perihal kedua orang tua yang tak mampu secara
finansial.
Bapaknya yang waktu itu seorang penggarap
lahan pekebunan orang lain, serta ibunya yang hanya sebagai ibu rumah tangga
tak mampu membiayai dirinya meraih S1, apalagi ditambah dua adiknya yang
sama-sama masih bersekolah pendidikan dasar, alhasil dia hanya bisa menganggur
selama setahun. Tapi sekali lagi, ia ingin kuliah.
Jadi bagaimana caranya ia berkuliah ?
apakah ia mendapat uang dari sanak keluarganya ?
“Tuhan maha penyayang laah. Jadi jika kita berniat teguh dan
selalu berdoa kepadanya, InsyaAllah, selalu ji
diberikan jalan.” jawab Arul sambil tersenyum melepas topi jaganya.
Setahun sebelum diterimanya jadi
mahasiswa, Arul di telepon oleh omnya yang ada di kendari untuk ditawari kerja.
“Sebenarnya, waktu itu saya juga sudah
ada mi pekerjaan. saya disewa bekerja
untuk mengambil buah coklat milik tetanggaku, tapi tentu tidak seberapa. Yaaaah.. tapi hasilnya tentu saja untuk
biaya pendaftaran kuliahku nanti.” Ujarnya.
Tanpa pikir panjang lagi, arul dengan
dada sesak penuh kebahigaan meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk
berangkat ke Kendari. Dengan persetujuan kedua orang tuanya, hari itu juga Arul
langsung menaiki mobil antar kota jam 9 pagi, yang ia singgahkan tepat di depan
rumahnya. Waktu itu pikirnya hanya satu, KULIAH...
Rp. 45.000,00 adalah harga yang harus
di tunaikannya selama 2 jam perjalanan SP 6 – Kendari. Bukan harga yang murah
untuk orang seperti dia. Namun sebuah cita-cita yang menggantung di angannya,
adalah harapan yang ingin ia wujudkan.
“Setelah ketemu dengan omku di sini
(Kendari), saya langsung mi ditawarkan
kerja sebagai security di UHO. Tentu mi saya terima dengan senang hati. Bukan
apa-apa, gajinya lumayan untuk tabunganku nanti” kata Arul mengenang masa itu.
Esok harinya, Arul langsung ke gedung
rektorat bersama omnya yang notabene satpam senior di UHO. Setelah melakukan
beberapa rangkaian tes fisik seperti push
up, lari keliling lapangan bola, dan sebagainya, Alhamdulillah ia diangkat
jadi satpam disana.
Sudah 5 bulan ia bekerja jadi satpam.
Penghasilan yang standar Rp.
1.000.000,00 digunakan sebaik mungkin. Sebagian untuk membantu keadaan keuangan
keluarganya di Konsel, dan sebagian lagi di tabung untuk kuliah. Dan dari semua
kerja kerasnya setelah 7 bulan pengangkatannya sebagai satpam, tibalah hari H
yang ditunggukannya.
“Sudah lama mi saya tunggu hari itu sebenarnya. Saya sudah siapkan mi jauh hari sebelumnya. Pas waktu
jagapun saya belajar juga, pokoknya dimana-mana saya belajar” ungkapnya sambil
tesenyum.
Ketidakmahiran Arul dalam
berteknologi, membuatnya harus melibatkan kemampuan sepupunya untuk mendaftar
online. Hingga pada hari ia mendaftar,
Arul berhasil mendapatkan nomor peserta 3158412389. Jurusan Jurnalistik
yang digandrungipun jadi pilihan.
Bulan Mei jadi perjuangan tinta hitam
diatas lembar putih ujian Syahrullah A.M., Aula Kedokteran jadi saksi, betapa
cita-cita yang diharapkan ingin diwujudkan. Usahanya yang dalam 7 bulan berbuah
manis, menempatkan namanya sebagai mahasiswa yang sah terdaftar di jurusan
Jurnalistik UHO.
“Saat itu perasaan saya bercampur
aduk, dari senang jadi anak kuliah, sampai sesak pembayaran ini itu.” Kata Arul
Satu tekad dalam hati “Kuliah”, sudah
membawanya sejauh ini. Perasaan bangga, bahagia, terharu tidak terbendung
sendiri. Pesan bahagia inipun di beritakan pula ke kedua orang tuanya, dan apa
yang mereka rasakan sama dengan Arul.
Sudah 1 tahun sejak Keberhasilan Arul meraih
cita-citanya, dan sekarang ia sudah resmi menjadi mahasiswa Jurnalistik yang
terdaftar di UHO. NIM C1D315046 jadi kebanggan tersendiri baginya. Tapi Arul
tetap jadi mahasiswa berseragam satpam. Ia kuliah sambil kerja.
Bagaimana pembagian waktu kerja dan
kuliah bila bertabrakan ?
“Yah Alhamdulillah, semua seniorku di
sini pengertian ji. Jadi kalau jadwalku bertabrakan, saya izin dulu ke pimpinanku.
Kalau sudah diizinkan, saya masuk mi
kuliah. Terus kalau sudah mi kuliah
saya langsung ke pos yang ditentukan untuk jaga.” Jawabnya tersenyum.
Apakah ada kerja sampingan lain ?
“Ada !!! jadi begini sebenarnya.
Sambil menyelam minum air. Maksudku, lagi jaga saya mengojek mi juga. Ngojekku itu untuk uang
keperluan lain-lain sebagai biaya tambahan. Seperti uang buku, terus uang bayar
cicilan motorku juga, dan banyak lagi.” Katanya.
Kekuatan Arul disini adalah genggaman
tekad yang teguh dan kuat untuk berkuliah, yang akhirnya mampu membawa dirinya
sampai kejenjang perkuliahan seperti apa yang dicita-citakan. Menurutnya biaya
bukan masalah bagi seseorang, jika ia
mau berusaha dan terus selalu berdoa.
Kini semua keluarga
Syahrullah sudah bertetap tinggal di Kendari untuk kehidupan yang lebih layak. Bapaknya
yang dulu seorang penggarap lahan oran lain, kini sudah menjadi satpam di pasar
Korem. Ibunya yang dulu hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, sekarang sudah
mulai memasarkan kue ke toko-toko. Upah yang di dapat ini, sudah terbilang
cukup mampu memenuhi kebutuhan finansial keluarga, apa lagi kakak pertamanya
dari empat bersaudara sekarang sudah kerja di Bakso Senayan, Wua-wua sebagai
karyawan.
Semoga kisah
inspiratifmu Syahrullah, dapat kita jadikan panutan bahwa kerja keraslah dan
sebuah doa yang membuat seseorang dapat meraih cita-citanya. Amiiiiiin......
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar